Pengertian Ilmu Hadist dan Cabang-Cabangnya Lengkap

    Sebelum membahas tentang ilmu hadist, terlebih dahulu perlu diketahui bahwa ilmu hadist sudah ada sejak zaman rasulullah saw. Yang digunakan untuk membedakan mana hadist dan mana yang bukan hadist. Namun walaupun begitu masih ada saja dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab se enaknya membuat hadist palsu dengan disandarkan kepada nabi. Oleh sebab itu sangat penting untuk mempelajari ilmu hadist, untuk mengetahui mana hadist mana yang bukan hadist, mana hadist sahih, mana yang tidak sahih.



PENGERTIAN ILMU HADIST

    Menurut bahasa ilmu hadist terdiri dari dua suku kata, Ilmu dan Hadist. Ilmu memiliki arti Pengetahuan sedangkan, Hadist memiliki arti sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik segi ucapan, perbuatan, maupun persetujuannya. Pengertian ilmu hadist sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang keadaan atau sifat para perawi dan yang diriwayatkan. Perawi adalah orang-orang yang membawa, menerima dan menyampaikan berita dari nabi, yaitu mereka yang terdapat dalam sanad suatu hadist. Sedangkan maksud dari yang diriwayatkan terkadang guru-guru perawi yang membawa berita dalam sanad yang diriwayatkan, apakah terjadi keganjalan jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Dengan begitu, dapat diketahui mana hadist yang sahih dan yang tidak sahih. 

    Ilmu hadist terbagi kedalam 2, yaitu :
  1. Ilmu Hadist Riwayah
  2.             Menurut bahasa riwayah berasal dari kata rawa, yarwi, riwayatan, yang artinya memindahkan. sedangkan pengertian ilmu hadist riwayah sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu perkataan kepada nabi, perbuatan nabi, periwayatannya, batasan-batasannya, dan ketelitiannya.  Fokus dari ilmu hadist riwayah ini sendiri adalah diri nabi, baik dari segi perkataan, perbuatan, maupun persetujuan beliau, dan bahkan sifat-sifat beliau yang diriwayatkan secara teliti dan berhati-hati, tanpa membicarakan nilai sahih atau tidaknya. Dengan demikian, ilmu hadist riwayah mempelajari periwayatan tentang apa, siapa, dan dari siapa berita itu diriwayatkan tanpa mempersyaratkan sahih atau tidaknya suatu periwayaan. Pendiri dari ilmu hadist riwayah adalah Muhammad bin syihab az-zuhri (wafat : 124 H), yaitu orang yang pertama kali mengumpulkan hadist riwayah berdasarkan perintah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz.

  3. Ilmu Hadist Riwayah
                    Menurut bahasa kata dirayah berasal dari kata dara, yadri, daryan/dirayatan yang artinya pengetahuan. Sedangkan pengertian dari ilmu hadist dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, macam-macamnya, dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, macam-macam periwayatan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Fokus dari ilmu hadist dirayah adalah mengetahui lebih jauh tentang sanad dan matan, periwayatan, yang meriwayatkan dan yang diriwayatkan, bagaimana kondisi dan sifat-sifatnya, diterima atau ditolak, sahih dari rasul atau dha'if. Dengan demikian, ilmu hadist dirayah berbeda dengan ilmu hadist riwayah. Ilmu hadist riwayah fokusnya hanya mempelajari tentang periwayatan segala perkataan, perbuatan, dan persetujuan nabi tanpa mempelajari sahih dan tidaknya suatu hadist. sedangkan ilmu hadist dirayah, fokusnya pada pengetahuan hadsit, baik dari segi keadaan sanad dan matan, apakah telah memenuhi persyaratan sebagai hadist yang diterima atau tertolak. Pendiri ilmu hadist dirayah adalah Al-Qodhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurrahman bin Khalid Ar-Ramahurmuzi ( wafat : 360 H ). Ilmu hadist dirayah memiliki nama lain seperti ulumul hadist, ushul hadist. 

CABANG-CABANG ILMU HADIST

    cabang-cabang ilmu hadist ada banyak sekali, ada yang mengatakan 65 cabang ada yang 6 ada juga yang 10 tergantung dari kepentingan penghitung itu sendiri. ada yang menghitung secara terperinci ada juga yang menghitung secara global. Cabang-cabang ilmu hadist yang terpenting, dari segi sanad atau matan dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
  1. Ilmu Rijal Al-Hadist, yaitu ilmu yang membahas tentang keadaan para perawi hadist dan biografinya, siapa guru-gurunya, siapa murid-muridnya, atau kepada siapa mereka menyampaikan periwayatan hadist, baik dari kalangan para sahabat, tabiit, dan tabiit tabiin. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengetahui bersambung atau tidaknya sanad suatu hadist. Tokoh-tokoh didalam ilmu rijal al-hadist adalah Al-Bukhari, Muhammad bin Sa'ad, dan masih banyak yang lain. 
  2. Ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil, yaitu ilmu yang membahas tentang nilai cacat atau adilnya seorang perawi dengan menggunakan ungkapan kata-kata tertentu yang telah di teliti dengan fakta dan data yang akurat. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengetahui sifat atau nilai keadilan, kecacatan, dan kekuatan daya ingat seorang perawi hadist. Diantara kitab-kitab yang membahas ilmu ini adalah Thabaqat karangan Ibnu Sa'ad Az-Zuhri Al-Bashri ( wafat : 230 H ) terdiri dari 15 jilid, Tarikh Al-Kabir karangan Al-Bukhori ( wafat : 256 H ).
  3. Ilmu 'Ilal Hadist, yaitu ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar yang membuat cacat dari kesahihan suatu hadist. ilmu ini adalah salah satu dari ulumul hadist yang paling utama. Dikarenakan 'ilal al-hadist tidak dapat diketahui oleh para ulama yang tidak memiliki keilmuan yang sempurna tentang hadist dan tidak memiliki indra yang kuat tentang sanad dan matan. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengetahui siapa diantara periwayat hadist yang terdapat illat dalam periwayatannya, dalam bentuk apa dan dimana illat terjadi, pada sanan atau pada perawi. Diantara kitab-kitab yang mempelajari tentang ilmu ini adalah Al-'ilal karang dari Ibnu Al-Madini ( wafat: 234H ).
  4. Ilmu Gharib Al-Hadist, yaitu ilmu yang mempelajari makna matan hadist dari lafal yang sulit dan asing bagi kebanykan manusia, karena tidak umum dipakai oleh orang arab. Tujuan ilmu ini adalah untuk mengetahui mana kata-kata dalam hadist yang tergolong gharib dan bagaimana metode ulama memberikan pendapat atas kalimat yang gharib tersebut. Diantara kitab-kitab yang membahas tentang ini adalah Al-Fa'iq fi Gharib Al-Hadist karangan Az-Zamakhsyari ( wafat 538 H).
  5. Ilmu Mukhtalif Al-Hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hadist-hadist yang munculnya ketika ada pertentangan namun masih dapat dikompromikan. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengetahui hadist mana yang kontra satu dengan yang lain dan bagaimana pemecahannya. Diantara kitab yang membahas ini adalah Ikhtilaf Al-Hadist karangan Asy-Syfi'i (wafat : 204 H).
  6. Ilmu Nasikh wa Mansukh, yaitu ilmu yang membahas tentang hadist-hadist yang menasakh dan yang dinaskh. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk  mengetahui salah satu proses hukum yang dihasilkan dari nasikh mansukh. Diantara kitab yang membahas ini adalah An-Nasikh wa Al-Mansukh karangan Imam Ahmad.
  7. Ilmu Fann Al-Mubhammat yaitu, ilmu yang mempelajari tentang seseorang yang samar namanya dalam matan atau sanad. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengetahui siapa sebenarnya nama-nama orang-orang yang disebut didalam matan atau sanad hadist yang masih samar. Diantara kitab yang membahas ini adalah Al-Isyarat ila Bayani Asma Al-Mubhamat karangan An-Nawawi. 
  8. Ilmu Asbab Wurud Al-Hadist Yaitu, ilmu yang mempelajari tentang sebab-sebab datangnya hadist, latar belakang dan waktu terjadinya. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk  mengetahui sebab-sebab dan latar belakang munculnya suatu hadist. Diantara kitab -kitab yang membahas tentang ini adalah Asbab Wurud Al-Hadist karangan As-Suyuti (wafat : 991 H).
  9. Ilmu Tashnif wa Tahrif yaitu, ilmu yang membahas tentang  hadist-hadist yang diubah titiknya atau diubah bentuknya. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk mengetahui kata-kata atau nama-nama yang salah dalam sana atau matan hadist dan bagaimana seseungguhnya yang benar sehingga tidak terjadi kesalahan terus-menerus dalam penukilan. Diantara kitab yang membahas tentang ini adalah Al-Muhadditsin karya Abu Ahmad Al-Askari (wafat: 283 H).
  10. Ilmu Musthalah Al-Hadist yaitu ilmu yang mempelajari tentang pengertian istilah-istilah ahli hadist dan yang dikenal diantara mereka. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk memudahkan para pengkaji dan peneliti hadist dalam mempelajari hadist. Diantara kitab yang membahas Ma'rifat Ulum Al-Hadist karangan Al-Hakim An-Naisaburi (wafat : 430 H).
    Demikian cabang-cabang ilmu hadist, masing-masing memiliki pembahasan tersendiri yang luas dan dalam. Oleh karenanya diperlukan dalam penelitian dan kajian ilmu hadist, baik dalam menemukan kualitas suatu hadist atau dalam memahami kajian makna hadist. 


DONASI VIA DANA Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts Newer Posts Older Posts Older Posts

More posts

Comments

Post a Comment