Apa Itu Tahlil ? Berikut Penjelasannya Lengkap
Banyak orang islam yang belum mengerti tentang apa yang dimaksud dengan tahlil. Yang pada akhirnya mereka membid'ah-bid'ahkan talilan. Menganggap tahlillan adalah perkara dilarang yang tidak boleh dilakukan karena mengandung kesesatan. Oleh sebab itu, agar kita salah dalam mengartikan tahlilan marilah kita pahami tentang tahlilan dengan baik.
PENGERTIAN SECARA UMUM
Tahlil menurut arti bahasa berasal dari asal kata ; هلل يهللل تهليلا yang berarti membaca kalimat toyyibah لا اله الا الله . dalam pembacaan tahlil biasanya disertai dengan membaca tasbih ( سبحان الله ) tahmid الحمدلله , shalawat serta bacaan –bacaan al Qur'an yang lain dan biasanya diawali Dengan fatihah dan diahiri dengan do,a. Para ulama sepakat bahwa pembacaan tahlil, tasbih , shalawat , merupakan salah satu bentuk dzikir kepada allah. Dan allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk sebanyak mungkin berdzikir kepadaNya dalam segala kondisi ( duduk maupun tidur).
Firman allah :
يا أيها الذين أمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا
Artinya :
"hai orang-orang yang beriman, beerdzikirlah kepada allah sebanyak mungkin dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu pagi dan sore " (Q.S. Al-ahzab, ayat 41-42)
Artinya :
"hai orang-orang yang beriman, beerdzikirlah kepada allah sebanyak mungkin dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu pagi dan sore " (Q.S. Al-ahzab, ayat 41-42)
Dan firman allah yang lain :
واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والاصال ولا تتكن من الغافلين
Artinya :
"berdzikirlah, sebutlah (nama) tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diridan perasaan takut dan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai". (QS. Al-a'raf :205).
Artinya :
"berdzikirlah, sebutlah (nama) tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diridan perasaan takut dan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai". (QS. Al-a'raf :205).
Hadis Nabi saw :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ جَدِّدُوْا إِيْمَانَكُمْ قَالُوْا كَيْفَ نُجَدِّدُ إِيْمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لا إِلَهَ إِلَّا الله
Artinya :
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Perbaharuilah iman kalian semua!’ Para sahabat bertanya, ‘bagaimana caranya, Ya Rosulalloh ?’ Kemudian Rosululoh menjawab, ‘Perbanyaklah membaca Lâ ilâh illâ Allâh.“ ( Musnad ibn Hanbal : 8353 )
Artinya :
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Perbaharuilah iman kalian semua!’ Para sahabat bertanya, ‘bagaimana caranya, Ya Rosulalloh ?’ Kemudian Rosululoh menjawab, ‘Perbanyaklah membaca Lâ ilâh illâ Allâh.“ ( Musnad ibn Hanbal : 8353 )
Rasulullah SAW juga bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لأن أقول سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله أكبر أحب الي مما طلعت عليه الشمش (رواه مسلم)
Artinya:
Dari sahabat abi hurairah ra berkata, rasulullah saw bersabda : "sungguh, membaca subhanallah wal hamdulillah wala ilaaha illa allah lebih aku senangi dari pada seluruh alam yang diterangi oleh matahari".(HR. muslim)
Artinya:
Dari sahabat abi hurairah ra berkata, rasulullah saw bersabda : "sungguh, membaca subhanallah wal hamdulillah wala ilaaha illa allah lebih aku senangi dari pada seluruh alam yang diterangi oleh matahari".(HR. muslim)
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان الى الرحمن سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم. (رواه البخارى و مسلم)
Artinya:
"Dari abu hurairah ra berkata, rasullullah saw bersabda : "dua kalimah yang ringan di lidah (mudah diucapkan), berat dalam timbangan (amal di akhirat)' dicintai oleh allah swt, yaitu : subhanallah wa bi hamdih subhanallahil 'adhim". (HR. bukhori muslim)
Artinya:
"Dari abu hurairah ra berkata, rasullullah saw bersabda : "dua kalimah yang ringan di lidah (mudah diucapkan), berat dalam timbangan (amal di akhirat)' dicintai oleh allah swt, yaitu : subhanallah wa bi hamdih subhanallahil 'adhim". (HR. bukhori muslim)
PENGERTIAN SECARA KHUSUS
Pada dasarnya tahlil yang secara khusus seperti halnya yang kita kenal dengan diawali bacaan fatihah kemudian bacaan-bacaan dzikir dan seterusnya yang terakhir ditutup dengan do,a, sebenarnya tidak pernah disusun oleh Nabi SAW. Namun menyusun tahlil seperti di atas diperbolehkan karena berisi dzikir-dzikir yang dianjurkan agama dan bertujuan menyumbangkan pahala atau memberi supley kepada orang yang sudah meninggal supaya bermanfaat baginya . Melihat isi dan tujuan tersebut, kita seharusnya berterimakasih kepada para ulama’ yang telah menyusun tahlil sehingga kita lebih mudah dalam berdzikir dan ber’amal .
SEPUTAR FIDA’AN
Fida’ merupakan istilah dari sebuah ritual yang faidahnya sebagai penebus dari api neraka dengan cara membaca lafadz tahlil sebanyak 70.000 kali.
Syekh Abu Muhammad Abdullah bin As'ad al-Yafi'i bersumber dari Syeh Abi Zaid al-Qurthubi menjelaskan :
سمعت من بعض الأثر أن من قال لا اله الا الله سبعين ألف مرة كانت فداءه من النار فعملت على ذلك رجاء بركة الوعد أعمالا ادخرتها لنفسى وعملت منها لأهلى
Artinya :
Artinya :
"Saya mendengar dari salah satu Atsar ( hadisnya sahabat Nabi ) bahwa ‘ Barang siapa membaca لا اله الا الله sebanyak 70.000 kali maka bacaan tersebut akan menjadi tebusan dari api neraka"
Pada dasarnya riwayat tadi sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam al-Qurtubi .Sebenarnya status riwayat ini masih perselisihkan oleh para ulama’. Sebagian ulama’ memvonis riwayat tadi adalah dhaif , karena dalam meriwayatkan hadits harus jelas status orang tersebut baik dalam sisi luar maupun dalam sehingga karena Imam Qurtubi tidak dikenal kepiawaiannya di bidang hadits oleh para ulama’ hadist, maka belum bisa untuk menjadikan ritual ini adalah sunah dengan berlandaskan riwayat tadi.
Namun bukan berarti kita langsung menvonis bahwa ritual tadi adalah termasuk yang dilarang oleh syari’at. Terbukti kita masih mempunyai beberapa ulama’ yang tetap mengatakan bahwa atsar yang diriwayatkan oleh Imam Qurtubi memang benar adanya. Termasuk ulama’ yang mempunyai pendapat semacam itu adalah Al Imam Syaikhul Islam al Thanbadawi al Bakri didalam kitab fatawinya. Bahkan beliau memantapkan kita dengan menunjukkan sebuah referensi dengan ungkapan beliau “ lihatlah atsar tadi di kitab Al maqosid al hasanah fil ahadis al dairah ‘alal alsinah milik syaikh al Imam al Khafidzh Syamsudin al Sakhawi”. Sebenarnya orang-orang yang mengatakan tidak sunah itu tidak melihat sebuah hadist
مَنْ بَلَغَهُ عَنْ اللَّهِ شَيْءٌ لَهُ فِيهِ فَضِيلَةٌ فَأَخَذَهُ إيمَانًا بِهِ وَرَجَاءَ ثَوَابِهِ أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ (رَوَاهُ الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ فِي جُزْئِهِ , وَيَتَوَجَّهُ أَنَّ إسْنَادَهُ حَسَنٌ)
Artinya :
“Barang siapa yang diberi tahu oleh allah tentang suatu ‘amal yang disana mempunyai keutamaan-keutamaan kemudian dia mengamalkan dengan trujuan iman pada allah SWT dan mengharapkan limpahan pahalanya maka allah SWT akan memberikan apa yang dia harapkan walaupuun sebenarnya suatu ‘amal tadi tidak mempunyai fadilah ( keutamaan )”
Artinya :
“Barang siapa yang diberi tahu oleh allah tentang suatu ‘amal yang disana mempunyai keutamaan-keutamaan kemudian dia mengamalkan dengan trujuan iman pada allah SWT dan mengharapkan limpahan pahalanya maka allah SWT akan memberikan apa yang dia harapkan walaupuun sebenarnya suatu ‘amal tadi tidak mempunyai fadilah ( keutamaan )”
Kalau menurut Sayyid Muhamad bin Ahmad bin ‘Abdul Bari al-Ahdali beliau mengatakan bahwa permasalan fida’an tadi cukup didukung dengan hadist ini sehingga tetap mendapatkan legalitas dari syari’at. Kita tahu bahwa tahlil mempunyai banyak kelebihan di antara wirid-wirid yang lain, sehingga diambil dari kefahaman hadits di atas yang penting adalah mempunyai fadilah kita dianjurkan mengamalkan ‘amalan tersebut walaupun tidak jelas mengatakan sunah terbukti Allah SWT berjanji akan memberikan sesuatu sesuai dengan apa yang kita harapkan bila mengamalkan ‘amalan tersebut.
Hanya saja Al ‘Alamah al Askhari mencoba menjadi penengah diantara kedua pendapat yang berseberangan dengan mengatakan “bahwa ‘amalan membaca lafadh tahlil yang sebanyak 70.000 dengan dihadiahkan pada orang-orang yang meninggal sebenarnya tidak ada dalam syari’at namun tetap boleh mengamalkan ‘amaln ini dengan berpegang pada hadist-hadist yang diklaim dhaif tapi belum sampai tingkat yang parah. Beliau memberikan alasan karena atsar tadi dari Qurtubi dan bersumber dari al ‘Afif Abdullah bin As’ad al Yafi’i maka dari beliau mengatakan tidak bisa dijadikan sandaran untuk menvonis sunah.
DONASI VIA DANA
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
Admin
Comments