Sejarah Arab Sebelum Islam Datang Yang Wajib Kamu Ketahui

       Selama ribuan tahun sejak wafat Rasul ulama’ menafsirkan jahiliyyah itu sebagai zaman kebodohan, itu adalah sebuah kesalahan sejarah yang cukup lama dibuat representasi. Memang ada alasan untuk itu, ungkapan al-Jahiliyyah al-‘Ula (jahiliyyah Awal), memberi kesan adanya kesan “zaman”. Term ini kebanyakan dianggap sebagai masa sejak diciptakannya Adam sampai Nabi Nuh. Zaman Jahiliyyah terakhir di interpresentasikan sebagai masa antara Nabi Isa dengan kedatangan Muhammad. 
sejarah arab sebelum datangnya islam

        Dengan pengertian itulah maka jahiliyah diartikan sebagai kebodohan dan lawannya adalah ilmu pengetahuan. Dengan begitu, maka arti kata Jahiliyyah adalah belum mengetahui adanya islam dengan artian Islam adalah pengetahuan Tauhid. Ini memang berisi semangat waktu ketika islam datang, yang menjadi masalah utama adalah mengabarkan, memberitahu, menyiarkan islam dikalangan orang sekitar. Kemudian bagi kita yang mendapatkan diri ditengah islam dan sudah tahu dengan ajarannya, term ini lebih menjurus pada pemahaman secara formal, menekankan jumlah yang tahu tauhid, dan memberi kesan yang terlalu mementingkan formalitas, bagian kulit luar dari sebuah ajaran spiritual. Arti kata jahiliyh yang di maksud rosul tidak ada sangkut pautnya dengan kata zaman atau periode. Kalau kedatangan islam itu memberntas kebiasaan jahiliyah, itu tidak lantas berarti bahwa babakan sejarah menjadi zaman jahiliyah dan zaman islam, sehingga implikasinya adalah bahwa jahiliyah merupakan periode yang telah lewat, sudah kadaluarsa, sudah mati dikubur ajaran islam. 
        Pengertian yang menyamakan zaman jahiliyah sebagai zaman kebodohan (ignorance) mungkin suatu usaha untuk ikut membonceng pengertian agama Kristen bahwa jahiliyah itu adalah zaman sebelum datangnya nabi. Jahiliyah itu benar-benar lepas dari pengertian zaman atau periode. Ini jelas terlihat dari kutipan ayat al-qur’an QS. Al- Fath: 26 : “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. Juga dibagian lain QS. Ali Imron : 14, yang menjelaskan tentang pertentangan jahiliyah dengan ketenangan (sakinah), sikap menahan diri dan taqwa. Qold Ziher. Dalam penelitiannya yang berusa membuktikan bahwa akar kata jahiliyah adalah buakan lawan dari kata ilm (kepintaran) melainkan hilm yang artinya menahan diri. 
         Maka perwujudan sifat jahiliyah adalah antara lain rasa keconkakan suku, semangat balas dendam yang tak berkesudahan, semangat kasar dan kejam yang keluar dari sikap nafsu tak terkendali dan perbuatan yang bertentangan dengan takwa. Ini bisa saja terjadi dalam zaman setelah kedatangan islam dan keluar dari pribadi seorang muslim. Jauh sebelum agama islam datang, judi adalah sebagian dari agama. Orang main bukan hanya sekedar memuaskan Nafsu adu untung duniawi, melainkan sebagian dari ibadah atau pengbdaian kepada Dewa. 
        Yang paling terkenal adalah permainan panah dewata. Selain itu, judi dalam bentuk popular juga dimainkan dengan cara membeli unta secara patungan, misalnya sepuluh orang. Hewan itu disembelih dan dagingnya dibagi dan ditumpuk dalam lima bagian. Nama peserta ditulis pada setiap sisi mata panah dewata, dikocok dalam kentong kulit dan dia,bil satu persatu sebanyak lima kali. Hanya yang namanya tercantum yang mendapat bagian, yang lain kalah. Lebih hebat lagi adalah bagaimana ‘Asyi’ bin Hisyam kalah main judi melawan Abu Lahab. Rumah dan hartanya disita. Karena dogma yang mengatakan bahwa judi adalah ibadah, maka apapun ditaruhkan mulai dari keuntungan kafilah sampai jodoh. Karena judi ini tanpa batas umur dan kelamin.
        Pada zaman ini pula, minuman keras dilegalkan, bahkan berlomba-lomba dalam pembuatannya. Minuman apa yang paling keras itulah yang paling dicari konsumen dan harganyapun melambung tinggi. Tidak hanya anggur sebagai komposisi pokok dalm pembuatannya akan tetapi gandum, kurma, dan sayatan mayangnya juga sebagai bahan pokok sehingga menghasilkan puluhan macam minuman dengan ratusan macam rasa dan kadar kerasnya. 
     Selain melegalkan miras, pelacuranpun mendapat tempat istimewa. Sedikitnya tempat mukim mereka ditandai semacam panji atau bendera baik dirumah atau pekemahan. Dan para tamu bias bertandang disini. Bila mana kelak bayi lahir sang ibu mengundang para langganannya dan dengan dihadiri saksi sang PSK akan menunjuk siapa sebenarnya ayah sang bayi. System perkawinan pada masa itu juga menarik. Lelaki adalah segalanya. Ia membayar mas kawin pernikahan kepada keluarga perempuan, dan bebas menceraikannya kapan saja pria mau. Dan apabila suami meninggal, keluarganya dapat menuntut segala dari pihak janda, baik berupa harta, anak bahkan dirinya sendiri. 
        Kedudukan wanita adalah tak ubahnya sebagai private property, dan dianggap rendah sekali. Terbukti ketika mampunya bayi perempuan, orang tuanya malunya minta ampun. Dan ketika pernikahan para undangan memberi selamat kepada pengantin dengan ucapan “semoga mendapat anak laki-laki” ini indikasi bahwa perempuan tidak ada harganya bahkan dianggap aib ketika dianugrasi bayi perempuan. Bahkan yang paling kejam ketika bayi perempuan lahir langsung dikubur hidup-hidup dan yang paling pembodohan lagi mengubur bayi perempuan hidup-hidup adalah sebuah bentuk pengorbanan kepada dewa.

Agama/Kepercayaan Orang Arab

        Ada beberapa agama atau kepercaan yang sudah hadir di jazirah Arab sebelum kedatangan Agama Islam, di antaranya adalah:
  1. Paganisme Arab 
  2.         Lingkungan masyarakat dalam alam demikian ini serta keadaan moral, politik dan sosial yang ada pada mereka, mempunyai pengaruh yang sama terhadap cara beragamanya. Melihat hubungannya dengan agama Kristen Romawi dan Majusi Persia, adakah Yaman dapat terpengaruh oleh kedua agama itu dan sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut di jazirah Arab lainnya? Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada pada masa itu sama giatnya seperti yang sekarang dalam mempropagandakan agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta cara hidup kaum pengembara tidak sama dengan orang kota.
           Dalam kehidupan kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia merasakan adanya wujud yang tak terbatas dalam segala bentuknya. Ia merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara dirinya dengan alam dengan ketak-terbatasannya itu. Sedang bagi orang kota ketak-terbatasan itu sudah tertutup oleh kesibukannya hari-hari, oleh adanya perlindungan masyarakat terhadap dirinya sebagai imbalan atas kebebasannya yang diberikan sebagian kepada masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada undang-undang penguasa supaya memperoleh jaminan dan hak perlindungan. Hal ini menyebabkannya tidak merasa perlu berhubungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan kekuatan alam yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan jiwa dengan unsur-unsur alam yang di sekitarnya jadi berkurang. Dalam keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen dengan kegiatannya yang begitu besar sejak abad-abad permulaan dalam menyebarkan ajaran agamanya itu? Barangkali soalnya hanya akan sampai di situ saja kalau tidak karena adanya soal-soal lain yang menyebabkan negeri-negeri Arab itu, termasuk Yaman, tetap bertahan pada paganisma agama nenek-moyangnya, dan hanya beberapa kabilah saja yang mau menerima agama Kristen. Apa yang telah menjadi pokok perdebatan kaum Nasrani Syam, lain lagi dengan yang menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun, melihat hubungannya dengan orang-orang Nasrani, tidak akan berusaha mengurangi atau menenteramkan perdebatan semacam itu.
           Oleh karena itu sudah wajar pula orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum Nasrani Syam dan Yaman dalam perjalanan mereka pada musim dingin atau musim panas atau dengan orang-orang Nasrani yang datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu di antara golongan-golongan itu. Mereka sudah puas dengan kehidupan agama berhala yang ada pada mereka sejak mereka dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.
          Oleh karena itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian inipun sampai kepada tetangga-tetangga mereka yang beragama Kristen di Najran dan agama Yahudi di Yathrib, yang pada mulanya memberikan kelonggaran kepada mereka, kemudian turut menerimanya. Hubungan mereka dengan orang-orang Arab yang menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Tuhan itu baik-baik saja. Yang menyebabkan orang-orang Arab itu tetap bertahan pada paganismanya bukan saja karena ada pertentangan di antara golongan-golongan Kristen. Kepercayaan paganisma itu masih tetap hidup di kalangan bangsa-bangsa yang sudah menerima ajaran Kristen. Paganisma Mesir dan Yunani masih tetap berpengaruh ditengah-tengah pelbagai mazhab yang beraneka macam dan di antara pelbagai sekta-sekta Kristen sendiri. Aliran Alexandria dan filsafat Alexandria masih tetap berpengaruh, meskipun sudah banyak berkurang dibandingkan dengan masa Ptolemies dan masa permulaan agama Masehi.
             Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap merasuk ke dalam hati mereka. Logikanya yang tampak cemerlang sekalipun pada dasarnya masih bersifat sofistik - dapat juga menarik kepercayaan paganisma yang polytheistik, yang dengan kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia. Saya kira inilah yang lebih kuat mengikat jiwa yang masih lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman, sampai saat kita sekarang ini. Jiwa yang lemah itu tidak sanggup mencapai tingkat yang lebih tinggi, jiwa yang akan menghubungkannya pada semesta alam sehingga ia dapat memahami adanya kesatuan yang menjelma dalam segala yang lebih tinggi, yang sublim dari semua yang ada dalam wujud ini, menjelma dalam Wujud Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan demikian itu hanya sampai pada suatu manifestasi alam saja seperti matahari, bulan atau api misalnya. Lalu tak berdaya lagi mencapai segala yang lebih tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam dalam kesatuannya itu. Bagi jiwa yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia akan membawa gambaran yang masih kabur dan rendah tentang pengertian wujud dan kesatuannya. Dalam hubungannya dengan berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus, yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan di seluruh dunia, sekalipun dunia yang mendakwakan dirinya modern dalam ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam peradaban. Misalnya mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus di Roma, mereka melihat kaki patung Santa Petrus yang didirikan di tempat itu sudah bergurat-gurat karena diciumi oleh penganut-penganutnya, sehingga setiap waktu terpaksa gereja memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.
             Cara-cara penyembahan berhala orang-orang Arab dahulu itu banyak sekali macamnya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui seluk-beluknya. Nabi sendiri telah menghancurkan berhala-berhala itu dan menganjurkan para sahabat menghancurkannya di mana saja adanya. Kaum Muslimin sudah tidak lagi bicara tentang itu sesudah semua yang berhubungan dengan pengaruh itu dalam sejarah dan lektur dihilangkan. Tetapi apa yang disebutkan dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam abad kedua Hijrah - sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda karenanya - menunjukkan, bahwa sebelum Islam paganisma dalam bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat yang tinggi. Di samping itu menunjukkan pula bahwa kekudusan berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap kabilah atau suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan. Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda pula antara sebutan shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub.
            Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu, Wathan demikian juga dibuat dari batu, sedang nushub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Mereka beranggapan batu karang itu berasal dari langit meskipun agaknya itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Di antara berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal dari Yaman. Hal ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka tidak dikenal di Hijaz, Najd atau di Kinda. Sayang sekali, buku-buku tentang berhala ini tidak melukiskan secara terperinci bentuk-bentuk berhala itu, kecuali tentang Hubal yang dibuat dari batu akik dalam bentuk manusia, dan bahwa lengannya pernah rusak dan oleh orang-orang Quraisy diganti dengan lengan dari emas.
             Hubal ini ialah dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka'bah di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu. Tidak cukup dengan berhala-berhala besar itu saja buat orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang dan memberikan kurban-kurban, tetapi kebanyakan mereka itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam rumah masing-masing. Mereka mengelilingi patungnya itu ketika akan keluar atau sesudah kembali pulang, dan dibawanya pula dalam perjalanan bila patung itu mengijinkan ia bepergian.
             Semua patung itu, baik yang ada dalam Ka'bah atau yang ada disekelilingnya, begitu juga yang ada di semua penjuru negeri Arab atau kabilah-kabilah dianggap sebagai perantara antara penganutnya dengan dewa besar. Mereka beranggapan penyembahannya kepada dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada Tuhan dan menyembah kepada Tuhan sudah mereka lupakan karena telah menyembah berhala-berhala itu. Meskipun Yaman mempunyai peradaban yang paling tinggi di antara seluruh jazirah Arab, yang disebabkan oleh kesuburan negerinya serta pengaturan pengairannya yang baik, namun ia tidak menjadi pusat perhatian negeri-negeri sahara yang terbentang luas itu, juga tidak menjadi pusat keagamaan mereka.
              Tetapi yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka'bah sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang berkunjung dan ke tempat itu pula orang melepaskan pandang. Bulan-bulan suci sangat dipelihara melebihi tempat lain. Yang paling menonjol dalam periode pra islam adalah kepercayaan kafir, menyembah batu sampai planet dan segala yang ada diantaranya: pohon, bulan dan komet-komet. Makkah adalah salah satu pusat penyembahan ini. Pengembara membawa batu sembahan dalam kemahnya. Kalau ia mendapat empat maka yang tiga menjadi tunku masak dan satu yang terbagus dipilih untuk disembah. Ada batu Ansab tempat mereka meletakkan sesajen lalu berkeliling beberapa kali sambil membaca do’a. Batu dan patung bukan lagi perantara, melainkan menjadi Tuhan itu sendiri. Hampir tiap rumah ada tempat menyembah (masjid) termasuk dikarangan depan Abu Bakar.
             Dewa terkenal yang menempati ka’bah adalah hubal. Ia patung terbeasar berjanggut lebat. Tangan kanannya patah dan diganti dengan emas. Dan pada suatu saat patung dibersihkan dari Ka’bah, orang menghitung ada 360 buah berhala besar kecil tidak terhitung burungan kayu, gambar isa dan maryam, pelana, pedang lampu semua bersepuh emas dan perak. Burung merpati juga ada, konon keturunan merpati yang digunakan dalm pemujaan bintang dan planet venus. Yang dipercaya sebagai kendaraan bagi do’a untuk disampaikan keatas lewat sayap.

  3. Agama Kristen dan Agama Majusi 
  4.         Setelah datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: "Akulah tuhanmu yang tertinggi" iapun berhadapan dengan Firaun sendiri dan tukang-tukang sihirnya, sehingga akhirnya terpaksa ia bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina. Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah yang ditiupkan ke dalam diri Mariam. Setelah Tuhan menarik kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkan agama Nasrani yang dianjurkan Isa itu. Mereka dan pengikut-pengikut mereka mengalami bermacam-macam penganiayaan. 
            Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama ini tersebar, datanglah Maharaja Rumawi yang menguasai dunia ketika itu, membawa panji agama Nasrani. Seluruh Kerajaan Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di Mesir, di Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan dari Mesir menyebar pula ke Ethiopia. Sesudah itu selama beberapa abad kekuasaan agama ini semakin kuat juga. Semua yang berada di bawah panji Kerajaan Rumawi dan yang ingin mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini, berada di bawah panji agama Masehi itu. Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar di bawah panji dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di Persia yang mendapat dukungan moril di Timur Jauh dan di India. Selama beberapa abad itu Asiria dan Mesir yang membentang sepanjang Funisia, telah merintangi terjadinya suatu pertarungan langsung antara kepercayaan dan peradaban Barat dengan Timur. 
           Tetapi dengan masuknya Mesir dan Funisia ke dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan itu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang sudah berhadap-hadapan muka. Selama beberapa abad berturut-turut, baik Barat maupun Timur, dengan hendak menghormati agamanya masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam, kini telah berhadapan dengan rintangan moril, masing-masing merasa perlu dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan kepercayaannya, dan satu sama lain tidak saling mempengaruhi kepercayaan atau peradabannya, sekalipun peperangan antara mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama. 
            Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam pada itu pertentangan antara Rumawi dengan Bizantium makin meruncing. Pihak Rumawi, yang benderanya berkibar di benua Eropa sampai ke Gaul dan Kelt di Inggris selama beberapa generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah mulai surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yang menguasai dunia itu. 
         Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah tatkala pasukan Vandal yang buas itu datang menyerbunya dan mengambil kekuasaan pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini telah menimbulkan bekas yang dalam pada agama Masehi yang tumbuh dalam pangkuan Kerajaan Rumawi. Mereka yang sudah beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan besar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu. Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah. Dari zaman ke zaman mazhab-mazhab itu telah terbagi-bagi ke dalam sekta-sekta dan golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai pandangan dan dasar-dasar agama sendiri yang bertentangan dengan golongan lainnya. 
             Pertentangan-pertentangan antara golongan-golongan satu sama lain karena perbedaan pandangan itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa oleh karena moral dan jiwa yang sudah lemah, sehingga cepat sekali ia berada dalam ketakutan, mudah terlibat dalam fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa Isa mempunyai jasad disamping bayangan yang tampak pada manusia; ada pula yang mempertautkan secara rohaniah antara jasad dan ruhnya sedemikian rupa sehingga memerlukan khayal dan pikiran yang begitu rumit untuk dapat menggambarkannya; dan disamping itu ada pula yang mau menyembah Mariam, sementara yang lain menolak pendapat bahwa ia tetap perawan sesudah melahirkan Almasih. 
            Terjadinya pertentangan antara sesama pengikut-pengikut Isa itu adalah peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat dan zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran: soalnya hanya terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap kata dan tiap bilangan itu ditafsirkan pula dengan bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal dan hanya dapat dikunyah oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku saja. Salah seorang pendeta gereja berkata: "Seluruh penjuru kota itu diliputi oleh perdebatan. Orang dapat melihatnya dalam pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang, pedagang makanan. Jika ada orang bermaksud hendak menukar sekeping emas, ia akan terlibat ke dalam suatu perdebatan tentang apa yang diciptakan dan apa yang bukan diciptakan. Kalau ada orang hendak menawar harga roti maka akan dijawabnya: Bapa lebih besar dari putera dan putera tunduk kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam mandi adakah airnya hangat, maka pelayannya akan segera menjawab: "Putera telah diciptakan dari yang tak ada." Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga ia terpecah-belah kedalam golongan-golongan dan sekta-sekta itu dari segi politik tidak begitu besar pengaruhnya terhadap Kerajaan Rumawi. Kerajaan itu tetap kuat dan kukuh. 
          Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan tetap adanya semacam pertentangan tapi tidak sampai orang melibatkan diri kedalam polemik teologi atau sampai memasuki pertemuan-pertemuan semacam itu yang pernah diadakan guna memecahkan sesuatu masalah. Suatu keputusan yang pernah diambil oleh suatu golongan tidak sampai mengikat golongan yang lain. Dan Kerajaanpun telah pula melindungi semua golongan itu dan memberi kebebasan kepada mereka mengadakan polemik, yang sebenarnya telah menambah kuatnya kekuasaan Kerajaan dalam bidang administrasi tanpa mengurangi penghormatannya kepada agama. Setiap golongan jadinya bergantung kepada belas kasihan penguasa, bahkan ada dugaan bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan pihak yang berkuasa itu. 
            Sikap saling menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium itu itulah pula yang menyebabkan penyebaran agama Masehi tetap berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampai ke Ethiopia yang merdeka tapi masih dalam lingkungan persahabatan dengan Rumawi. Dengan demikian ia mempunyai kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut Merah seperti di sekitar Laut Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab Ghassan yang pindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai Furat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah dari pedalaman sahara yang tandus ke daerah-daerah subur juga demikian, yang selanjutnya mereka tinggal di daerah itu beberapa lama untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia Majusi. 
            Dalam pada itu kehidupan Majusi di Persia telah pula mengalami kemunduran seperti agama Masehi dalam Imperium Rumawi. Kalau dalam agama Majusi menyembah api itu merupakan gejala yang paling menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dan kejahatan pengikut-pengikutnya telah berpecah-belah juga menjadi golongan-golongan dan sekta-sekta pula. Tapi disini bukan tempatnya menguraikan semua itu. Sungguhpun begitu kekuasaan politik Persia tetap kuat juga. Polemik keagamaan tentang lukisan dewa serta adanya pemikiran bebas yang tergambar dibalik lukisan itu, tidaklah mempengaruhinya. 
            Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua berlindung di bawah raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentangan itu ialah karena memang sengaja digunakan sebagai suatu cara supaya satu dengan yang lain saling berpukulan, atas dasar kekuatiran, bila salah satunya menjadi kuat, maka Raja atau salah satu golongan itu akan memikul akibatnya. Kedua kekuatan yang sekarang sedang berhadap-hadapan itu ialah: kekuatan Kristen dan kekuatan Majusi, kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. Bersamaan dengan itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada dibawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab. Kedua kekuatan itu masing-masing mempunyai hasrat ekspansi dan penjajahan. 
             Pemuka-pemuka kedua agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke atas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya. Sungguhpun demikian jazirah itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagian kecil saja pada beberapa kabilah. Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim jazirah itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing.

  5. Agama Nasrani dan Yudaisme Manifestasi
  6.          Peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu - seperti yang sudah kita saksikan - berpusat di sekitar Laut Tengah dan Laut Merah. Agama-agama Kristen dan Yahudi bertetangga begitu dekat sekitar tempat itu. Kalau keduanya tidak memperlihatkan permusuhan yang berarti, juga tidak memperlihatkan persahabatan yang berarti pula. Orang-orang Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-nyebut adanya pembangkangan dan perlawanan Nabi Isa kepada agama mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja mau membendung arus agama Kristen yang telah mengusir mereka dari Palestina, dan yang masih berlindung dibawah panji Imperium Rumawi yang membentang luas itu. Orang-orang Yahudi di negeri-negeri Arab merupakan kaum imigran yang besar, kebanyakan mereka tinggal di Yaman dan Yathrib. 
         Di samping itu kemudian agama Majusi (Mazdaisma) Persia tegak menghadapi arus kekuatan Kristen supaya tidak sampai menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu didukung oleh keadaan paganisma di mana saja ia berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang di tangannya, ialah sesudah pindahnya pusat peradaban dunia itu ke Bizantium. Sungguhpun begitu peradaban yang dihasilkan dari kesuburan negerinya serta penduduknya yang menetap menimbulkan gangguan juga dalam lingkungan jazirah itu. 
            Raja-raja Yaman kadang dari keluarga Himyar yang sudah turun-temurun, kadang juga dari kalangan rakyat Himyar sampai pada waktu Dhu Nuwas al-Himyari berkuasa. Dhu Nuwas sendiri condong sekali kepada agama Musa (Yudaisma), dan tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya. Ia belajar agama ini dari orang-orang Yahudi yang pindah dan menetap di Yaman. Dhu Nuwas inilah yang disebut-sebut oleh ahli-ahli sejarah, yang termasuk dalam kisah "orang-orang yang membuat parit," dan menyebabkan turunnya ayat: "Binasalah orang-orang yang telah membuat parit. Api yang penuh bahan bakar. Ketika mereka duduk di tempat itu. Dan apa yang dilakukan orang-orang beriman itu mereka menyaksikan. Mereka menyiksa orang-orang itu hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Mulia dan Terpuji." (Qur'an 85:4-8), Keukunan antara aga yahudi dan kristen ini tidak ada.
               Di Himyar raja terakhirnya Dzu nawas memproklamasikan yahudi sebagai agama Negara, berkat pengaruh ibunya, bekas gadis budak. Ia membersihkan negaranya dan membunuh penganut Kristen, antara lain para pedagang romawi dan aksum yang ada dinegrinya. Raja aksum mengirimkan angkatan laut dan mengejar Dzu nawas sampai ke lereng gunung, begitu tentara aksum pulang, dzu nawas muncul dan kali ini ia serius setelah merebut lagi tahtanya tahun 525, ia meratakan semua gereja membantai pemeluk Kristen di Najran ratusan jumlahnya dan melemparkannya kedalam parit,. Banyak yang dipenggal kepalanya. Di gereja yunani dan eropa orang mengheningkan cipta dalam “liturgy” para martir dari najran ini. Pasukan raja aksum datang lagi dan membuat perhitungan terakhir, ia menghancurkan tentara Himyar. Dzu Nawas sendiri lenyap tanpa bekas.

Otoritas kekuasaan 

    Sebelum agama islam hadir dalam pangkuan arab, telah ada dua kekuatan besar yang telah menguasai bangsa-bangsa arab waktu itu yaitu kerajaan Persia dan kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi dalam misinya adalah selain menguasai bangsa Arab dia juga ingin mengkristenisasikan bangsa arab dewasa itu, disisilain kerajaan Persi adalah pihak rival yang ingin memajusikan Arab. 
        Dan menurut catatatan sejarah kerajaan Persia lebih dominant dalam kekuasaan, bahkan Romawi dapat dipukul mundur oleh kerajaan Persia. Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat mengalahkan Rumawi dan dapat menguasai Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di ambang pintu Bizantium, namun tak terpikir oleh raja-raja Persia akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat agama Nasrani. Bahkan pihak yang kini berkuasa itu malahan menghormati kepercayaan orang yang dikuasainya. Rumah-rumah ibadat mereka yang sudah hancur akibat perang dibantu pula membangun kembali dan dibiarkan mereka bebas menjalankan upacara-upacara keagamaannya. Satu-satunya yang diperbuat pihak Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu berganti berada di pihak Rumawi Salib itupun diambilnya kembali dari tangan Persia. 
        Dengan demikian peperangan rohani di Barat itu tetap di Barat dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian rintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan. Itulah tadi sekedar pembacaan pada tingkat jazirah, akan tetapi lebih menarik ketika Otoritas kekuasaan ini kita bawa kecakupan yang lebih sempit yaitu Makkah. Di makkah Ka’bah adalah sebuah batu yang sacral meskipun islam belum dating. Dan suatu hal yang penting bahwa sejak didirikan mekkah ditempat itu, sudah ada jabatan-jabatan penting seperti yang dipegang Qusai bin kilab pada pertengahan abad kelima massehi. 
        Pada waktu itu para pemuka Mekkah berkumpul. Jabatan-hijabah, siqayah, rifadah, nadwah, liwa’ dan qiyadah dipegang semua oleh qusai. Hijabah ialah penjaga pintu ka’bah. Siqayah ialah yang menyediaakan air tawar dan minuman keras dari kurma. Rifadah ialah penyediaan makanan bagi penziarah. Nadwah yang bertugas memimpin rapat setiap musim. Liwa’ panji yang dipancangkan pada tombak lalu ditancapkan sebagai lambing tentara yang datang menghadapi musuh. Dan Qiyadah berarti pimpinan pasukan dalam perang. Di mekah jabatan-jabatan demikian sangat terpandang. Dan masalah ibadah seolah pandangan semua orang arab tertuju ke ka’bah.
DONASI VIA DANA Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts Newer Posts Older Posts Older Posts

More posts

Comments

Post a Comment