Pembahasan Tentang Sholat Aneh
Shalat adalah salah satu media komunikasi (munajat) seorang
hamba dengan Tuhannya. Sehingga diperlukan bimbingan langsung dari Rasulullah
SAW supaya keabsahan ritual terjamin.
Dewasa
ini, di masyarakat kita masih bertebaran berbagai macam shalat “misterius,”
tidak jelas sumber dan landasan hukumnya. Untuk membantu menguak misteri
shalat-shalat tersebut, di sini penulis berusaha membuka tabir agar
shalat-shalat tersebut tidak menjadi misteri lagi.
SHÂLAT RÂGHÂ`IB
PENGERTIAN
Shalat yang dilakukan di awal malam Jum’at
bulan Rajab sebanyak 12 rokaat. Sedangkan waktunya di antara Maghrib dan ‘Isya’.
HUKUM
Shalat Raghâ`ib sebenarnya masih diperselisihkan
para ulama’. Sebagian besar ulama’ mengatakan bahwa hadits yang menjadi landasan
shalat ini adalah maudhu’ yang tidak
bisa dipakai atau diamalkan. Oleh karena itu aktivitas ini dianggap sebagai
bid’ah sayyi’ah (tercela) yang harus dihindari. Diantara ulama yang
mendukung pendapat ini adalah an-Nawawi dan Ibnu Hajar. Sedang Imam al-Ghazâli
dalam kitab Ihyâ` ‘Ulûmuddîn berpendapat shalat ini di perbolehkan .
DALIL
Hadits Anas bin Malik :
1. قال
رسول الله ما من أحد يصوم أول خميس من رجب ثم يصلي
فيما بين العشاء والعتامة اثنتي عشرة ركعات يفصل بين كل ركعتين بتسليمة يقرأ في كل
ركعة بفاتحة الكتاب مرة وإنا أنزلناه في ليلة القدر ثلاث مرات وقل هو الله أحد اثنتي
عشرة مرة فإذا فرغ من صلاته صلى عليّ سبعين مرة ويقول اللهم صل على النبي الأمي وعلى
آله ثم يسجد ويقول في سجوده سبعين مرة سُبُّوح قُدُّوس ربُ الملائكة والروح ثم
يرفع رأسه ويقول سبعين مرة رب اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم فإنك أنت العلي العظيم
ثم يسجد سجدة أخرى ويقول فيها مثل ما قال في السجدة الأولى ثم يسأل حاجته في سجوده
فإنها تقضى
.
قال رسول الله r لا يصلي أحد هذه الصلاة إلا غفر له جميع
ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر وعدد الرمل ووزن الجبال وورق الأشجار ويشفع يوم
القيامة في سبعمائة من أهل بيته ممن قد استوجب النار.
“Tidak seorangpun ketika berpuasa pada awal bulan rojab
kemudian shalat 12 roka’at pada waktu diantara isya’ dan magrib dengan cara dua
roka’at dengan salam setiap satu raka’at membaca surah Al fatihah dan Al Qadr tiga
kali kemudian dilanjutkan membaca surat al ikhlas 12 kali ketika sudah selesai
shalat membaca shalawat 70 kali dengan bacaan (Allahumma shali ‘alan-Nabiyy al-ummiyy
wa’ala alihi ) kemudian sujud dengan membaca (Subbuhun qudduus rabbul malaikah
warruh ) sampai 70 kali kemudian kepalanya diangkat dan membaca dzikir (Rabbighfir
warham watajawaz ‘amma ta’lamu fainnaka antal al’aliyyu al ‘adzim ) kemudian
sujud lagi dan membaca seperti bacaan yang pertama dan pada waktu sujud
dianjurkan berdo’a sesuai dengan permintaannya niscaya akan dikabulkan .Rasulullah berkata : “tidak
seorangpun yang melakukan shalat ini kecuali akan diampuni segala dosa-dosanya
meskipun sebanyak busa di lautan, sejumlah butiran pasir, seberat gunung dan
daun-daunan dipohon dan dia akan memberikan
syafa’at kepada tujuh ratus orang keluarganya yang ahli neraka .”
Imam Al ‘Amiri dalam kitab Bahjahnya
mencoba mengambil jalan tengah. Menurutnya, sebaiknya shalat ini dijauhi karena
bertentangan dengan hadits shahih yang menunjukkan hukum makruh mengkhususkan
malam jum’at untuk melakukan ritual-ritual ibadah. Kecuali ketika ditemukan hadits
sahih yang menganjurkan shalat ragha’ib. Padahal tidak ada satu hadits shahihpun
yang menganjurkan shalat Raghâ`ib.
Hadits shahih yang melarang
mengkhususkan malam jum’at diriwayatkan oleh imam muslim, yaitu :
لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين
الليالي.
“Janganlah kalian mengkhususkan
malam Jum’at dengan melakukan beberapa shalat”.
SHALAT NISHFU SYA’BAN
PENGERTIAN
Shalat yang dikerjakan pada tanggal 15 Sya’ban
sebanyak 100 rakaat. Dalam tiap rakaat setelah Al fatihah membaca Al Ikhlas 10
kali.
SEJARAH PERKEMBANGANNYA
Ritual ini mengemuka sekitar tahun 448 H
. Mula –mula ada seseorang laki-laki melakukan shalat di masjid al-Aqsha pada
pertengahan bulan Sya’ban. Kemudian dibelakangnya ada orang yang mengikuti, semakin
lama semakin banyak . Di tahun berikutnya, banyak masyarakat yang antusias
untuk mengadakan shalat ini sehingga pada akhirnya tersebar di seluruh penjuru kota . Mereka menganggap
hal ini adalah sunah.
Hadits yang di gunakan sebagai landasan
untuk melegalkan shalat ini sebenarnya bermasalah. Sebagian ulama’ menilai
sebagai hadits maudlu’sehingga ritual ini dianggap bid’ah qobihah karena
baginda Nabi sama sekali tidak pernah melakukan shalat semacam ini, bahkan
tidak menganjurkan sama sekali. Oleh karena itu, bagi orang yang melakukannya
harus segera disadarkan kerena ritual ini adalah tradisi yang harus
dimusnahkan. Namun sebagian ulama’ menganggap aktivitas ini telah direstui oleh
syari’at. Bahkan sebagian tabi’in dari negeri Syam seperti Khâlid bin Ma’dan, Mak-hul,
Lukman bin ‘Amir dan yang lain-lain selalu melaksanakannya.
DASAR
1.
روي عن الحسن أنه قال
حدثني ثلاثون من أصحاب النبي r أن من صلى هذه الصلاة في هذه الليلة نظر
الله إليه سبعين نظرة وقضى له بكل نظرة سبعين حاجة أدناها المغفرة .
Diriwayatkan
dari Hasan, beliau mengatakan :”Tiga puluh sahabat nabi telah bercerita kepadaku
bahwa sesungguhnya orang yang melakukan shalat ini (nishfu sya’ban) pada malam ini, niscaya Allah swt akan
memandangnya sampai tujuh puluh kali. Setiap kali memandang, Allah akan
mengabulkan hajatnya dan hajat yang paling rendah adalah ampunan dari Allah
swt”.
2.
عن أبي هريرة t
أنه قال قال عليه الصلاة والسلام أتاني جبريل ليلة النصف من شعبان وقال يا محمد
هذه ليلة تفتح فيها أبواب السماء وأبواب الرحمة فقم وصل وارفع رأسك ويديك إلى السماء
فقلت يا جبرائيل ما هذه الليلة ؟ فقال هذه الليلة يفتح فيها ثلاثمائة باب من
الرحمة فيغفر الله تعالى لجميع من لا يشرك بالله شيئا إلا من كان ساحرا أو كاهنا أو
مشاحنا أو مدمن خمر أو مصرا على الزنا أو آكل الربا أو عاق الوالدين أو النمام أو
قاطع الرحم فإن هؤلآء لا يغفر لهم حتى يتوبوا ويتركوا فخرج النبي عليه الصلاة
والسلام فصلى وبكى في سجوده وهو يقول اللهم إني أعوذ بك من عقابك وسختك ولا أحصي
ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك فلك الحمد حتى ترضى .
Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra., Nabi
muhamad SAW pernah bersabda, “Pada malam nishfu Sya’ban, Jibril datang padaku
dan berkata ”Wahai Muhamad malam ini adalah malam dibukanya pintu langit dan
pintu rahmat, maka berdiri dan lakukanlah shalat, angkatlah kepala dan kedua tanganmu kelangit.”
Kemudian aku berkata, “Wahai Jibril , malam apa ini? Jibril menjawab “Malam ini
adalah malam dibukanya tiga ratus pintu rahmat dan Allah akan mengampuni semua
orang yang tidak menyukutukan-Nya kecuali para penyihir, peramal, penebar permusuhan,
peminum khamr, pezina, pemakan riba, pendurhaka kedua orang tuanya, pengadu domba,
pemutus tali persaudaraan. Mereka semua tidak akan diampuni dosa-dosanya sampai
mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatannya. Kemudian Nabi SAW keluar dan
melakukan shalat. Beliau menangis ketika sujud dan membaca do’a “Ya Allah,
sesungguhnya aku meminta perlindungan dari siksa dan amarah-Mu dan aku tidak
mampu menghitung pujian yang dipersembahkan pada-Mu seperti halnya ketika Engkau
memuji Dirimu sendiri, maka Engkaulah yang berhak memiliki pujian sehingga Engkau
meridhoinya”.
Sayyidina ‘Ali juga pernah meriwayatkan
sebuah hadits
إذا
كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها.
“Ketika malam nisfu sa’ban tiba maka shalatlah
dimalam hari dan puasalah disiang hari”
Namun hadits ini di klaim isnadnya doif.
Imam Al-‘Amiri lebih lentur dalam menanggapi masalah ini, Beliau berpedapat
bahwa sebenarnya tidak ada larangan yang tegas dalam ritual ini sehingga bagi
siapa yang ingin menjalankannya silahkan saja melakukan dengan sendirian karena
untuk Syi’ar Agama harus ada dalil yang menjelaskannya.
SHALAT KAFÂRAH
Islam sebagai agama rohmatan lil ’alamin
selalu memprioritaskan kesejahteraan umat . Ajarannya akan selalu menerangi
jalan-jalan kegelapan dan menyelamatkan dari kesesatan. Sehingga tak heran jika penganutnya akan merasa aman dan
terlindungi dengan mengikuti petunjuknya. Setiap orang selalu menginginkan
dirinya terbebas dari jilatan api neraka. Mereka akan melakukan apa saja
asalkan terhindar dari segala siksaan diantaranya dengan menjalankan ritual
ibadah yang dikenal dengan shalat kafârah.
Sebenarnya shalat kafârah ini ada dua macam;
satu adalah shalat yang dilakukan di Jum’at akhir bulan Ramadlan dan diyakini
sebagai penebus dari shalat-shalat yang ditinggalkan beberapa tahun yang lalu. Hukum
shalat ini haram dan termasuk bid’ah qobihah. Yang kedua adalah shalat
barâ’ah. Mereka meyakini bahwa shalat ini sebagai tebusan dari dosa yang
pernah ia kerjakan. Dengan menjalankannya ia akan dijauhkan dari api neraka. Dasar
dari shalat yang kedua ini adalah hadits
yang diriwayatkan oleh Sayyidah Fatimah ra.
عن النبي r أنه قال من صلى ليلة الأربعاء ركعتين يقرأ
في الأولى فاتحة الكتاب وقل آعوذ برب الفلق عشر مرات وفي الثانية بعد الفاتحة قل
أعوذ برب الناس عشر مرات ثم إذا سلم استغفر الله عشر مرات ثم يصلي على محمد r عشر مرات نزل من كل سماء سبعون ألف ملك
يكتبون ثوابه إلى يوم القيامة وفي حديث آخر ست عشرة وكعة يقرأ بعد الفاتحة ماشاء
الله ويقرأ في آخر الركعتين آية الكرسي ثلاثين مرة وفي الأوليين ثلاثين مرة قل هو
الله آحد يشفع في عشرة من أهل بيته كلهم وجبت عليهم النار.
Nabi SAW berkata
“barang siapa melaksanakan shalat dua raka’at pada waktu malam hari rabu dengan
membaca surah al fatihah dan surah al falaq sepuluh kali kemudian raka’at kedua
setelah al fatihah membaca surah annas sepuluh kali niscaya 70.000 malaikat
akan turun untuk mencatat pahalanya sampai hari kiamat” .
وروت فاطمة رضي الله
عنها إنها قالت قال رسول الله r من صلى ليلة الأربعاء ست ركعات قرأ في كل
ركعة بعد الفاتحة قل آللهم مالك الملك إلى أخر الأية فإذا فرغ من صلاته يقول جزى
الله محمدا عنا ما هو أهله غفر له ذنوب سبعين سنة وكتب له براءة من النار.
Rosululloh bersabda “barang siapa shalat pada
waktu malam hari rabu 16 raka’at setiap kali satu raka’at membaca surah al
fatihah dan membaca Allahumma malikul milki dan deterusnya kemudian setelah
selesqai membaca do’a seperti dalam hadits maka allah akan mengampuni dosanya
selama 70 tahun dan dicatat termasuk orang yang bebas dari api neraka” ( H.R,Fathimah )
Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu
Musa al-Madîny dan menjadi dasar Imam Ghazali untuk memperbolehkan shalat
kafârah di malam Rabu. Hanya sayangnya, hadits tersebut menurut muhadditsin berstatus
dla’if jiddan (kedla’ifannya sangat parah) sehingga tidak dapat
digunakan sebagai dasar hukum meskipun dalam fadla’ilul a’mâl..
SHALAT
BIRRUL WALIDAIN
Shalat birrul walidain bermula dari hadits
Nabi :
عن أبي هريرة t عن النبي r قال من صلى ليلة الخميس ما بين المغرب والعشاء
ركعتين يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب وآية الكرسي خمس مرات وقل هو الله أحد خمس
مرات والمعوذتين خمس مرات فإذا فرغ من صلاته استغفر الله تعالى خمس عشرة مرة وجعل
ثوابها لوالديه فقد أدى حق والديه عليه وإن كان عاقا لهما وأعطاه الله تعالى ما
يعطي الصديقين والشهداء (أخرجه ابو موسى المديني وأبو منصور الديلمي في مسند
الفردوس بسند ضعيف جدا وهو منكر)
Artinya: “Nabi muhamad SAW berkata “barang
siapa yang melakukan shalat dua raka’at pada malam hari kamis ditengah antara
waktu isya’ dan magrib setiap kali satu raka’at membaca alfatiah setelah itu
diterusakan membaca ayat kursi lima kali dan al ikhlas lima kali dan
mu’awwidatain juga lima kali kemudian setelah selesai shalat membaca istughfar
15 kali dengan tujuan dihadiahkan pada orang tuanya maka dia termasuk orang
yang sudah melakukan kewajiban pada orang tuanya apabila sebelumnya dia orang
yang menentang kedua orang tuanya dan Allah akan memberikan sesuatu seperti
halnya diberikan pada orang-orang yang mati syahid,dan orang-orang yang jujur.”
(HR Abi Hurairah)
Sabda baginda Rosululloh yang dilansir oleh Abi
Hurairoh di atas masih menyisakan teka-taki dikalangan ulama’. Sebagian dari
mereka menganggap hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Madini dan Abu
Mansur ad-Dailami dalam kitab musnadul firdaus sanadnya lemah bahkan termasuk hadits
munkar. Hal ini menunjukkan shalat birrul wâlidain tergolong bid’ah dan tidak
boleh dilakukan. Namun satu versi mengklaim pelaksanaan rirual ini telah
mendapatkan legitimasi dari syari’at
SHALAT
LAILATUL QADAR
Dasar
:
عن إبن عباس عن النبيي عليه الصلاة
والسلام أنه قال من صلى في ليلة القدر ركعتين يقرأ في ركعة بفاتحة الكتاب مرة
والإخلاص سبع مرات فإذا سلم يقول أستغفر الله وأتوب إليه سبعين مرة فلا يقوم من
مقامه حتى يغفر الله له ولأبويه ويبعث الله تعالى ملائكة الى الجنان يغرسون له
الأشجار ويبنون القصور ويجرون الأنهار ولا يخرج من الدنيا حتى ذلك كله.
Artinya: “Barang siapa melaksanakan shalat dua
rakaat dimalam lailatul qodar setiap satu rakaat membaca al fatihah dan al
ikhlas tujuh kali maka ketika setelah salam membaca istighfar(seperti dalam hadits)
70 kali,niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orangtuanya dan
Allah mengutus para malaikat kesurga untuk menanam pepohonan dan membangun rumah
panggung
قال رسول الله r من قام ليلة الفجر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من دنبه رواه
إحمد والبخاري ومسلم والنساء والبيهقي .
Artinya:
“
قال رسول الله r إلتمسوها في عشر الأواخر من رمضان في كل وتر رواه البخاري ومسلم.
Artinya:
“
أن رسول الله r كان يجتهد في ظلبها في العشر الأواخر من رمضان مالا يجتهد في غير
(أخرجه مسلم والترمذي عن عائشة)
Artinya:
“
وأنه كان r إذا دخل الشر الأواخر أحيا الليل وأيقض أهله وجد وشد المعزر (أخره
البخاري ومسلم عن عائشة)
Artinya:
“
Lailatul
qodar adalah salah satu malam yang istemewa. Menurut Annawawi lailatul qodar merupakan
malam yang sepesial yantg hanya di presentasikan untuk umat muhamad
SAW.Melakukan ritual ibadah bertepatan dengan lailatul qodar merupakan idaman
setiap insan karena dengan satu ibadah saja akan kebih baik dan utama dari pada
seribu malam. Oleh karena itu sudah sepatutnya setiap muslim melakukan
pendekatan diri (taqorrub) dimalam yang kemungkinan besar sebagai lailatul
qodar.Kemunculan lailatul qodar merupakan hal yang misterius .ia dataqng dengan
tiba-tiba hanya orang-orang yang diklehendaki Allohlah yang tau kapan
kedatanganya.Ada beberapa versi dalam menetukan munculnya lailatul qodar versi
imam syaf’I pada tanggal 21 atau 23 romadon ibnu abbas dan ahmad lebih
cenderung pada tanggal 27 romadon dan masih banyak versi-versi yang lain hingga ada sekitar 30
versi.
SHALAT ‘ASYURO’
Shalat ‘Asyura’ yang dikenal masyarakat
ada dua macam:
1. Dilakukan pada
malam ‘Asyura’ ,yaitu shalat empat rakaat.Dalam tiap rakaat membaca al fatihah
satu kali dal al ikhlas lima
kali.
2. Dilakukan pada hari
‘Asyura’ diantara Dhuhur dan ‘Ashar,yaitu shalat 40 rakaat.Setiap satu rakaat
membaca al fatihah satu kali,ayat kursi 10 kali,al ikhlas 11 kali,al
mu’awwidatain 5 kali,dan ketika sudah salam membaca istighfar 70 kali.
Shalat
diatas Menurut syekh Haqi An-nazili diperbolehkan namun menurut mayoritas ulama’ bahwa melakukan shalat ini
tidak diperbolehkan(haram)karena hadits yang menerangkan praktek shalat dimalam
‘Asyura’ termasuk hadits mudtharib,sedangkan yamg menerangkan swhlat dihari
(siang) ‘Asyura’ termasuk hadits maudu’.(palsu)
Karena
itu sebaiknya dihindari.Hadits tersebut adalah:
عن أبى هريرة قال
قال رسول الله r " من أحيى ليلة عاشوراء فكأنما عبدالله
تعالى بمثل عبادة أهل السموات ومن صلى أربع ركعات يقرأ في كل ركعة الحمد مرة وخمسة
مرة قل هو الله أحد غفر الله له ذنوب خمسين عاما ماض وخمسين عاما مستقبل وبنى له
في المثل الاعلى ألف ألف منبر من نور ".
هذا حديث لا يصح عن
رسول الله صلى الله عليه وسلم.وقد أدخل على بعض المتأخرين من أهل الغفلة، على أن
عبدالرحمن بن أبى الزناد مجروح.قال أحمد: هو مضطرب الحديث، وقال يحيى: لا يحتج به.
عن أبى هريرة قال
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " من صلى يوم عاشوراء ما بين الظهر والعصر
أربعين ركعة، يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب مرة، وآية الكرسي عشر مرات، وقل هو
الله أحد إحدى عشرة مرة، والمعوذتين خمس مرات، فإذا سلم استغفر سبعين مرة، أعطاه
الله في الفردوس قبة بيضاء فيها بيت من زمردة خضراء، سعة ذلك البيت مثل الدنيا
ثلاث مرات، وفى ذلك البيت سرير من نور، قوائم السرير من العنبر الاشهب، على ذلك
السرير ألفا فراش من الزعفران ".وذكر حديثا طويلا من هذا الجنس.هذا حديث
موضوع.
SHALAT ROJAB
Rojab merupakan salah satu bulan sepesial
untuk umat islam ia diberi gelar Al ‘Asom karena malaikat pencatat amal hanya
menulis amal-amal yang terpuji.hal itu disebabkan karena pada bulan ini mereka
tidak mendengar satupun perbuatan tercela sehingga tak heran jika janji pahala
berlipat ganda selau didengungkan sang pembawa syar’at baginda nabi SAW .Diantara
ritual yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah
Shalat
di awal bulan Rajab sebanyak 20 rakaat dengan sepuluh salam. Pada tiap rakaat membaca al Fatihah dan al Ikhlas satu kali.
عن أنس بن مالك قال
قال رسول الله r " من صلى المغرب أول ليلة من رجب ثم
صلى بعدها عشرين ركعة يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو الله أحد مرة ويسلم
فيهن عشر تسليمات أتدرون ما ثوابه ؟ فإن الروح الامين جبريل علمني ذلك قلنا الله
ورسوله أعلم قال حفظه الله في نفسه وماله وأهله وولده وأجير من عذاب القبر وجاز
على الصراط كالبرق بغير حساب ولا عذاب ( هذا حديث موضوع وأكثر رواته مجاهيل )
Kita tahu sendiri hadits tadi termasuk
yang maudlu’ dan ternyata para ulama’ yang meriwayatkan hadits ini mereka
adalah orang-orang yang tidak dikenal dikalangan ulama’ muhaditsin sehingga
menimbulkan hukum bahwa shalat ini dinaggap bid’ah qabihah,dalam artian tidak
boleh di’amalkan menurut mayoritas ulama’ .
Dari hadits diatas masyarakat berupaya
untuk mentradisikan prosesi shalat di awal bulan rojab. Mereka tidak ingin
menyia-nyiakan peluang yang hadir
setahun sekali.
Pelegalan ritual ini ternyata mendapat
sambutan hangat dari sebagian ulama’ diantaranya sayyid muhamad haki annazili lewat hadits yang beliau
riwayatkan.
SHALAT RABO WEKASAN
Rebo wekasan konon adalah hari rabu
terakhir bulan shafar (seperti tanggal 19 September 1990). Dan memang
dimujarabaat-nya syekh Ahmad ad-Dairabi, diakhir bab XVIII, antara lain
disebutkan “Dari kalangan orang-orang ‘arif dan ahli kasyf ada yang
menuturkan bahwa setiap tahun turun 320.000 balak dan itu semua dihari rabu
terakhir bulan shafar.Maka barang siapa yang hari itu shalat empat rakaat dan
seterusnya”.
Kalau memang
mereka mengerjakan shalat Rebo wekasan itu mendasarkan Kepada kitab Mujarrabat
tersebut ya tidak benar karena kitab ini bukan al qur’an,bukan hadits,dan bukan
kitab fiqh yang mu’tabar.Bahkan kitab ini lebih mirip dengan “tuntunan
perdukunan”belaka.
Menurut
keputusan Musyawarah Ulama’ NU Jawa Tengah th 1978 di Magelang,upacara Rebo
wekasan adalah ghairu masyru’, tidak di syari’atkan oleh islam.Mengenai
shalatnya sendiri,shalat Rebo Wekasan,hukumnya haram,kecuali apabila yang
mengerjakan shalat itu berniat shalat sunah mutlaqah(pokoknya shalat
sunah),atau niat shalat hajat,tidak berniat mengkhususkan hari tersebut.
KH
Hasyim Asy’ari pernah dawuh, “ora wenang fatwa,ajak-ajak,lan ngelakoni
shalat rebo wekasan lan shalat hadiah kang kasebut ing soal,kerono shalat loro
iku mau dudu shalat masyru’ah fisyar’I lan ora ono asale fisyar’I.”
Ritual
Rebo Wekesan hanya ditemukan dalam mujarabat syekh ahmad ad-dairabi.
Umpama Shalat Rebo Wekasan itu
disyari’atkan,tentu imam-imam besar seperti Imam Ghazali,Imam Nawawi,Imam
Rafi’i sudah mengetahuinya.Namun ternyata mereka tidak pernah menyinggung sama
sekali shalat Rebo Wekasan.Disamping itu karena memang ritual shalat ini tidak
dikenal oleh Nabi muhamad SAW dan para sabatnya,kita sudah ma’lumi bahwasanya
ketika ada salah satu perkara yang mana tidak ada pada waktu masa nabi dan para
sahabat maka divonis bid’ah.
عن أم المؤمنين أم
عبد الله عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه
فهو رد رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.
Artinya; "mereka yang
menciptakan urusan agama yang bukan
termasuk sunnah nabi maka akan ditolak" (HR.Bukhori-Muslim )dan
dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan "bagi mereka yang beramal tidak
beroasarkan sunnah nabi maka akan ditolak"
Secara tidak langsung ritual
shalat ini adalah termasuk bid’ah yang dilarang oleh baginda Nabi muhamad SAW.
DONASI VIA DANA
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
Admin
Comments