Sejarah Turunnya Al-Quran | Nuzulul Quran Lengkap
Al-Quran diturunkan bertujuan agar manusia memperoleh
petunjuk yang jelas. al-Quran juga merupakan bekal utama bagi manusia yang
dijadikan dasar untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya .
Al-Qurân
diturunkan dalam tiga tahap :
1.
Al-Qurân diturunkan secara sekaligus ke lauh al-mahfûdh
dengan cara yang hanya diketahui Allah dan orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Dalam proses awal ini al-Quran diturunkan dalam satu kumpulan (جملة واحدة).
Sedangkan hikmahnya adalah agar umat manusia mau beriman, meyakini akan
wujudnya Lauh Mahfûdz sebagai bukti kekuasaan Allah dan tetap berbaiksangka
atas segala kebijakan dari Allah SWT. (turunnya al-Quran tidak langsung ke Nabi
SAW melainkan ke Lauh Mahfûdz terlebih dahulu). Dalil turunnya al-Qurân tahap
pertama ini adalah :
Bahkan yang didustakan
mereka itu ialah Al Quran yang mulia,
Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.(QS al-Burûj :21-22)
2. Al-Quran diturunkan
dari lauh al-mahfûdh ke langit dunia (bait al-‘izzah).
Mengenai hal ini ada tiga pendapat :
Ø Al-Quran diturunkan
sekaligus ke langit dunia pada waktu malam qadar (lailatul qadar),
kemudian diturunkan secara bertahap dalam waktu 20 atau 23 atau 25 tahun.
Perbedaan jumlah ini karena adanya perbedaan mengenai berapa lama Nabi tinggal
di Mekkah setelah kenabian.
Ø Al-Quran diturunkan
ke langit dunia selama 20 kali lailatul qadar dalam 20 tahun. Ada yang
berpendapat selama 23 kali malam qadar
dalam 23 tahun, ada yang mengatakan selama 25 kali pada malam qadar dalam 25
tahun. Kemudian al-Quran diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW di
sepanjang tahun.
Ø
Al-Quran pertama kali diturunkan pada malam qadar. Kemudian
setelah itu turun secara bertahap dalam waktu 23 tahun. Kemudian diturunkan
secara bertahap dalam berbagai waktu.
Mayoritas
ulama setuju dengan pendapat pertama karena lebih masyhur dan terbukti paling
valid. Hal ini didukung oleh beberapa dalil diantaranya :
@ Dalam surat ad-Dukhân ayat 1-3
disebutkan :
1.Haa miim. 2. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan,
3. Sesungguhnya kami menurunkannya pada
suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi
peringatan.(QS ad-Dukhân:1-3)
@
Dalam surat
al-Qadr ayat 1-2 disebutkan :
Sesungguhnya kami Telah
menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (QS al-Qadr :1 )
@
Dalam surat
al-Baqarah disebutkan :
Bulan Ramadhan, bulan
yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak
dan yang bathil). (QS al-Baqarah : 185)
Tiga ayat di atas menjelaskan bahwa
al-Quran diturunkan pada suatu malam yang penuh berkah sebagaimana dalam surat ad-Dukhân. Malam
tersebut disebut dengan lailah al-qadr sebagaimana dalam surat al-Qadr dan terletak pada bulan Ramadlan seperti
yang termaktub dalam surat
al-Baqarah. Sebagaimana dimaklumi, al-Quran diturunkan kepada Nabi SAW secara
bertahap semenjak Beliau diangkat menjadi Nabi sampai wafat. Karena itu, yang
dimaksud ketiga ayat di atas tentulah bukan turunnya al-Quran kepada Nabi namun
turunnya al-Quran ke langit dunia sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits :
E
عن ابن عباس t انه قال فصّل القرآن من الذكر فوضع في بيت العزة من السماء الدنيا
فجعل الجبريل ينزل به على النبي r, رواه الحاكم
Ibnu
abbas berkata: al-Quran dipisahkan dari ad-dzikr kemudian diletakkan di baitil
‘izzah di langit dunia, kemudian
jibril membawa {menurunkan}kepada nabi SAW .
E
عن
ابن عباس قال أنزل القرآن في ليلة القدر في شهر رمضان إلى سماء الدنيا ليلة واحدة ثم
أنزل نجوماً (أخرجه الطبراني و إسناده لا بأس
به)
Dari ibn ‘Abbâs ia
berkata, “Al-Quran diturunkan di malam qadr pada bulan Ramadlan ke langit dunia
dalam satu malam kemudian diturunkan secara bertahap.(HR at-Thabrâny)
E
عن
ابن عباس قال أنزل القرآن جملة واحدة حتى وضع في بيت العزة في السماء الدنيا ونزله
جبريل على محمد r
بجواب كلام العباد وأعمالهم (أخرجه الطبراني والبزار)
Dari ibn ‘Abbâs ia berkata, “Al-Quran diturunkan
secara sekaligus sehingga diletakkan di bait al-’izzah di langit dunia. Dan
Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW dalam menjawab pertanyaan para
hamba dan perbuatan mereka (HR at-Thabrâny dan al-Bazzâr)
Hikmah al-Quran diturunkan secara
sekaligus ke langit dunia adalah mengagungkan nilai al-Quran dan Nabi yang
diberi wahyu sekaligus sebagai pengumuman kepada seluruh penduduk langit bahwa
ini adalah kitab yang terakhir diturunkan.
3. Al-Quran diturunkan
kepada Nabi secara bertahap dari langit dunia melalui Malaikat Jibril mulai
tanggal tujuh belas Ramadlan (menurut sebagian pendapat). Ini sebagaimana
tersebut dalam firman Allah :
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi
salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.(QS as-Syu’arâ`
: 193-195)
ALASAN
DAN HIKMAH AL-QURAN DITURUNKAN SECARA BERTAHAP
Hikmah
al-Quran diturunkan secara bertahap telah dijelaskan oleh Allah sendiri dalam
firman-Nya. Setidaknya ada tiga hikmah di balik turunnya al-Qurân secara
bertahap :
@ lebih menancap
didalam hati beliau SAW dan menghilangkan keraguan akan kebenaran al-Quran,
karena berangsur-angsurnya sesuatu yang sesuai dengan kenyataan membuat hati
semakin yakin akan kebenaran hal itu. Ini sebagaimana yang tersebut dalam
firman Allah :
Berkatalah
orng-orang kafir:Mengapa Alqu'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun
saja,demikinlah supaya kami perkuat
hatimu dengannya dan kami membacakan secara
tartil(teratur dan benar) (QS al-Furqân:32)
@ Mempermudah
menghapal al-Quran bagi orang-orang muslimin, memahaminya dan merenungi makna
al-Quran. Karena sebagaimana diketahui, mayoritas orang Arab di masa itu ummy
(tidak bisa tulis baca) sebagaimana dalam firman Allah :
Dia-lah yang mengutus
kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan
hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata (QS al-Jumu’ah:2)
@ Sebagai tanda bahwa
al-Quran benar-benar diturunkan dari Allah sebagaimana dalam firman-Nya :
Alif laam raa, (Inilah)
suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara
terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha
tahu,(QS Hûd:1)
DI BALIK TANGGAL TUJUH BELAS RAMADLAN
Kapankah mulai
turunnya al-Qurân ? Benarkah al-Quran turun pada tanggal tujuh belas Ramadlan ?
Pertanyaan ini selalu muncul tatkala kita memasuki bulan ramadlan.
Sebenarnya banyak
versi dalam menentukan kapan al-Quran mulai diturunkan. Salah satu diantara
pendapat tersebut adalah tanggal tujuh belas Ramadlan. Hal ini sesuai yang
ditegaskan dalam hadits-hadits di bawah ini :
C
عَنْ خَارِجَةَ بن زَيْدِ بن ثَابِتٍ عَنْ
أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ يُحْيِي لَيْلَةَ ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ
وَلَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلا كَإِحْيَائِهِ لَيْلَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ
فَقِيلَ لَهُ كَيْفَ تَخُصُّ لَيْلَةَ
سَبْعَ عَشْرَةَ ؟ فَقَالَ إِنَّ فِيهَا نَزَلَ الْقُرْآنُ وَفِي صَبِيحَتِهَا
فُرِّقَ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَكَانَ فِيهَا يُصْبِحُ مُبْهَجَ الْوَجْهِ
(رواه الطبراني)
Dari Khârijah ibn Zaid ibn Tsâbit dari
ayahnya, sesungguhnya ia selalu menghidupkan (beribadah pada) malam dua puluh
tiga dan dua puluh tujuh bulan Ramadlan. Namun tidak seperti ketika Beliau
menghidupkan malam ke tujuh belas. Ia ditanya,”Mengapa engkau mengkhususkan
malam ketujuh belas ?” Zaid menjawab, “Pada malam itu al-Qurân diturunkan dan
pada paginya dipisahkan antara yang haq dan yang bathil....(HR at-Thabrâny).
C
حَدَّثَنِي حَوْطٌ الْعَبْدِيُّ ، قَالَ :
سَأَلْتُ زَيْدَ بن أَرْقَمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ؟ فَقَالَ مَا أَشُكُّ وَمَا
أمتري أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةَ
نُزُولِ الْقُرْآنِ ، وَيَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ( رواه الطبراني)
Hauth al-‘Abdy bercerita padaku. Ia
mengatakan, “Aku bertanya tentang lailautl qadr. Ia menjawab,”Aku tidak ragu
dan tidak gamang bahwa seusngguhnya lailatul qadr adalah tanggal tujuh belas,
malam turunya al-Quran dan hari bertemunya dua pasukan.(HR at-Thabrâny)
Dari hadits-hadits di atas jelas bahwa
berkeyakinan tanggal tujuh belas Ramadlan sebagai malam nuzulul Quran mempunyai
dasar pijak yang jelas. Syeikh Nawawi al-Bantany mengatakan,
إلى أن أتاه صريح الحق منه ووافاه وذلك (إتيان
صريح الأمر المحقق) في يوم الإثنين سبع عشرة (ليلة) خلت (مضت) من شهر الليلة
القدرية (وهو رمضان الذي تكون فيه القدر غالبا)
…..Sampai Beliau menerima kebenaran yang nyata (wahyu) pada hari
Senin tanggal 17 Ramadlan, pada malam lailatul qadar
HUKUM MEMPERINGATI NUZULUL QURAN
Peringatan nuzulul Qurân dengan model yang kita kenal
seperti sekarang sebenarnya tradisi yang berkembang di masyarakat. Namun benih
dari tradisi tersebut telah ditebarkan oleh shahabat Zaid bin Tsâbit dalam
hadits :
عَنْ
خَارِجَةَ بن زَيْدِ بن ثَابِتٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّهُ كَانَ يُحْيِي لَيْلَةَ
ثَلاثٍ وَعِشْرِينَ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَلَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلا
كَإِحْيَائِهِ لَيْلَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ ، فَقِيلَ لَهُ : كَيْفَ تَخُصُّ لَيْلَةَ
سَبْعَ عَشْرَةَ ؟ فَقَالَ : إِنَّ فِيهَا نَزَلَ الْقُرْآنُ وَفِي صَبِيحَتِهَا
فُرِّقَ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ ، وَكَانَ فِيهَا يُصْبِحُ مُبْهَجَ
الْوَجْهِ (رواه الطبراني)
Dari Khârijah ibn Zaid ibn Tsâbit dari
ayahnya, sesungguhnya ia selalu menghidupkan (beribadah pada) malam dua puluh
tiga dan dua puluh tujuh bulan Ramadlan. Namun tidak seperti ketika Beliau
menghidupkan malam ke tujuh belas. Ia ditanya,”Mengapa engkau mengkhususkan
malam ketujuh belas ?” Zaid menjawab, “Pada malam itu al-Qurân diturunkan dan
pada paginya dipisahkan antara yang haq dan yang bathil....(HR at-Thabrâny).
Jelas menurut keterangan hadits tersebut bahwa ternyata
Zaid bin Tsabit, seorang shahabat Nabi, sekretaris Rasulullah dalam penulisan
wahyu juga memberikan perlakuan istimewa kepada malam turunnya al-Qurân.
Memperingati nuzulul Qurân seperti yang kita kenal
sekarang biasanya berisi pembacaan ayat suci al-Quran, ajakan untuk merenungi
kembali dan mengamalkan ajaran al-Quran. Inti dari peringatan nuzulul Quran
adalah mengekspresikan rasa gembira atas turunnya al-quran yang menjadi
petunjuk bagi kita. Bila kita tinjau secara seksama, isi dari peringatan
nuzulul Quran yang kita lakukan sekarang termasuk ibadah sehingga termasuk
bagian dari teladan yang diberikan oleh shahabat tersebut. Sebagaimana dalam
pembahasan dan kajian yang lain, prosesi peringatan nuzulul Quran yang kita
kenal sekarang termasuk bid’ah, namun tergolong bid’ah hasanah melihat
kandungan isi peringatan tersebut yang kesemuaannya adalah ibadah dan anjuran
dari syara’.
DONASI VIA DANA
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
Admin
Comments