Siapa Wahabiyah Itu ?

Wahabiyah adalah suatu golongan yang dinisbatkan pada Muhammad bin Abdul Wahab, awal munculnya gerakan golongan ini adalah pada tahun 1143 H. dikemudian hari pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab ini menjadi populer setelah berusia 50 tahun. Kemudian dia (Muhammad bin Abdul Wahab) mulai terang – terangan menampakkan Aqidah /  Ideologinya sesatnya di negara Najd dan dia mendapatkan bantuan yang sangat berarti untuk menanamkan Ideologinya ini dari Muhammad bin Syu’ud yaitu penguasa al-Dzariyyah negaranya Musailamah al-Kadzab dengan cara memaksa penduduk untuk mengikuti Muhammad bin Abdul Wahab dan tidak henti – hentinya sang penguasa tersebut menipu serta memperdaya masyarakat hingga pada akhirnya satu demi satu semua daerah yang ada dibawahanya dapat dikuasai dan dikelabuhi hingga fitnah terdapat dimana – mana dan nama Muhammad bin Abdul Wahab kian menjadi sangat populer dikalangan masyarakat kala itu, dia amat ditakuti serta disegani oleh masyarakat desa hingga pada suatu hari dia berkata :
ما أدعوكم الا الى التوحيد وترك الشرك بالله تعالى فى عبادته
“Saya tidak akan mengajak pada kamu sekalian kecuali untuk meng-esakan dan meninggalkan menyekutukan Allah SWT dalam menyembah beribadah kepada-Nya”



Pengikutnya pada waktu itu sama berjalan dibelakangnya ke mana saja dia (Muhammad bin Abdul Wahab) berjalan pergi. Muhammad bin Abdul Wahab lahir pada tahun 1111 H dan wafat pada tahun 1207 H. pada awal pendidikanya dia sering pulang pergi bolak balik dari Kota Makkah ke Kota Madinah untuk mendapatkan wawasan keilmuwan dari para cendikiawan yang banyak berdomisili di kedua Kota bersejarah tersebut. Diantara cendikia yang dia temui dikota Madinah adalah Syaih Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syaih Muhammad Hayat al-Syandi. kedua Ulama’  tersebut dan Ulama’ besar lainya yang pernah menjadi guru dari Muhammad bin Abdul Wahab mempunyai firasat pada diri Muhammad bin Abdul Wahab bahwa kelak dia akan tersesat dan menyimpang,. Guru-gurunya berkata: Kelak Allah SWT akan menyesatkan dia dan menyesatkan orang-orang yang Dia celakakan dari hamba-Nya. Di kemudia hari semua penyataan tersebut menjadi kenyataan, dimana Muhammad bin Abdul Wahab memang benar-benar tersesat dan menyesatkan masyarakat banyak.
Kejadian serupa juga terjadi pada ayahnya yaitu Abdul Wahab dimana dia menerka dan mempunyai firasat buruk pada diri anaknya bahwa kelak akan tersesat serta menyimpang dari ajaran yang benar, bahkan ia (sang ayah) menakut nakuti orang-orang untuk tidak berhubungan serta bergaul dengan anaknya, demikian juga saudaranya yaitu Syaih Sulaiman hingga akhirnya sang adik ini mengarang banyak kitab / buku untuk mengkanter atau menolak terhadap apa yang telah diperbuat oleh Muhammad bin Abdul Wahab kakaknya baik berupa Bid’ah atau beberapa aqidah yang sesat lainya. Dan Muhammad bin Abdul Wahab ini dikemudian hari memang betul-betul melaksanakan segala Bid’ah seperti yang pernah di ungkanpkan oleh para Ulama’ senior padanya, dia seringkali mengamati serta mempelajari ceritanya orang-orang yang mengaku, mengklaim dan memproklamerkan diri sebagai Nabi seperti Musailamah al-Kadzab, Syajah, Aswad al-Anusy dan Tulaikhah al-Asyadi dll, untuk sementara dia simpan dan sembunyikan pengakuan sebagai Nabi ini dihati karena belum memungkinkan untuk ditampakkan, dia namai para pengikut yang berasal dari daerahnya dengan nama Al-Anshor dan mereka para pengikut yang berasal dari luar daerah sebagai kaum Muhajirin. Dia memerintahkan orang - orang yang sudah pernah melaksanakan ibadah Haji (Hajjatul Islam) sebelum menjadi pengikutnya untuk melaksanakan Haji kedua kalinya sambil berkata :
ان حجك الاولى غير مقبولة لانك حججتها وأنت مشرك
“Sesungguhnya Hajimu yang pertama tidak diterima ( pahalanya ) karena kamu Haji sementara kamu dalam kondisi Musyrik”.
Dan berkata kepada orang yang ingin masuk kedalam agamanya (kepercayaanya) : Bersaksilah pada dirimu sendiri bahwa pada masa yang lalu kamu adalah Kafir dan bersaksilah pada kedua orang tuamu bahwa mereka berdua dahulu Kafir dan bersaksilah pada Fulan bin Fulan lantas dia menyebutkan satu golongan dari para Ulama’ senior bahwa mereka semua adalah Kafir. Apabila segala apa yang diperintahkan dilaksanakan maka orang tersebut diterima masuk menjadi pengikutnya namun sebaliknya bila tidak diterima maka dia memerintahkan para al-Gojonya untuk membunuhnya.
Dia ( Muhammad bin Abdul Wahab ) terang terangan mengkufurkan banyak umat semenjak 600 tahun dan tidak segan segan ia mengkufurkan orang yang tidak mau mengikuti ideologinya, sekalipun orang tersebut sudah tidak diragukan lagi ketaqwaanya pada Allah SWT. Ia namakan orang-orang tersebut sebagai golongan orang yang menyekutukan Tuhan ( Musyrik ) ia halalkan darah serta harta benda mereka dan ia nyatakan Iman pada orang yang mau menjadi pengikut setianya sekalipun orang tersebut termasuk dari golongan orang-orang Fasik yang berhak mendapatkan balasan siksa yang setimpal dari Allah SWT. Seringkali ia meremehkan baginda Nabi dengan berbagai macam ungkapan kasar  diantaranya adalah menyebut beliau Nabi dengan sebutan : Thoris yang artinya menurut pemahaman awam adalah seorang pesuruh / utusan, padahal orang awam sendiri tidak pernah mengunakan kalimat tersebut pada orang yang memiliki ketinggian derajat. Diantaranya lagi adalah perkataan dia sebagai berikut : Saya amati alur cerita perang Khudaibiyyah hingga akhirnya Saya ketemukan suatu kesimpulan bahwa dia Nabi adalah begini dan begitu (yang semuanya dusta) dan masih banyak lagi perkataanya yang bernada minor serta penghinaan pada beliau Nabi. Hingga sebagian dari pengikutnya dengan lantang ada yang berkata dihadapannya :
ان عصاى هذه خير من محمد لانى انتفع بها ومحمد قد مات فلم يبق فيه نفع
“ Tongkat saya ini lebih bagus dari Muhammad ( Nabi ) karena saya dapat menggambil kemanfa’atan dengannya sedangkan Muhammad telah tiada tidak ada lagi kemanfa’atan yang tersisa darinya ”.
              Dia ucapkan kata kata kotor tersebut dengan penuh kesadaran dan kerelaan ( tanpa beban ) padahal ungkapan tersebut sebagaimana yang telah dimaklumi bersama dapat menyebabkan kufur bagi pelakunya menurut kesepakatan Iman Madzhab empat. Kesesatan berikutnya adalah dia (Muhammad bin Abdul Wahab) sangat benci membaca sholawat pada Nabi Muhammad SAW, dia melarang umat membaca sholawat pada malam jum’at dan melarang mengeraskan lantunan sholawat di menara Masjid tidak hanya itu saja dia siksa orang – orang yang berani membangkang terhadapnya dengan berbagai macam siksaan yang pedih, hingga pada suatu waktu dia tega membunuh seorang muadzin buta yang tidak mau mengindahkan serta menghiraukan laranganya untuk tidak membaca sholawat pada Nabi setelah muadzin tersebut selesai dari adzannya. 
            Setelah itu dia mengelabuhi pengikutnya dengan perkataan : Itu semua aku lakukan untuk menjaga kemurnian taukhid, tidak berhenti disitu saja kesesatan Muhammad bin Abdul Wahab dia bakar berbagai macam kitab yang memuat tentang sholawat pada Nabi SAW seperti kitab Dalail al-Khoirot dan lainya dia juga membakar bermacam macam kitab Figh, Tafsir dan Hadist dan banyak lagi buku buku / kitab yang isi kandunganya berlawananan dengan ideologi sesatnya, dia izinkan pengikutnya untuk menafsiri al-Qur’an dengan kefahamannya sendiri-sendiri.
            Dalam mengkufurkan banyak manusia dia (Muhammad bin Abdul Wahab) seringkali berpedoman dengan ayat-ayat al-Qur’an yang turunya ditujukan pada orang-orang musyrik kemudia dia belokkan maksud tujuan ayat tersebut untuk menghantam orang-orang yang mengesakan Allah SWT (Muwakhidin). Didalam kitab Shohih Buchori beliau Imam Buchori telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Umar RA, yang menjelaskan tentang perilaku orang-orang Khowarij bahwa sesungguhnya mereka mengkaji dan meneliti serta menganalisa ayat-ayat yang turunya ditujukan pada orang-orang kafir namun kemudia mereka arahkan dan mereka belokkan isi serta kandunganya pada orang-orang Mu’min. dan dalam Hadits riwayat lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda :
أخوف مااخاف على امتى رجل متأول للقرآن يضعه فىغير موضعه
“ Hal yang paling saya takutkan terjadi pada umatku adalah seorang lelaki yang menta’wili al-Qur’an, dia mengarahkan asi kandungannya tidak yang semestinya “.
         Hadits yang menjelaskan tentang kekhawatiran dan ketakutan Nabi serta hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar sebelumnya justru dibenarkan oleh fersi Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya sehingga semakin nampak dari ucapan serta perilakunya kesesatan mereka hingga pada suatu saat dia mengaku bahwa apa yang dia sampaikan adalah agama baru karenanya dia tidak menerima apa yang ada dalam agama beliau Nabi  kecuali al-Qur’an itupun dilakukan sebagai kepura-puraan belaka sekedar untuk mengelabuhi umat agar ajaran sesat yang sesungguhnya dia sebarkan tidak diketahui. Asumsi ini dapat dibenarkan dengan apa yang kita lihat dari perilaku Muhammad bin Abdul Wahab bersama para pengikutnya yang senantiasa menta’wili al-Qur’an disesuaikan dengan kemauanya sendiri, tidak disesuaikan dengan penafsiran Nabi, Sahabat, Ulama’ Salaf al-Sholeh serta para Imam ahli tafsir. Mereka bahkan tidak pernah berbicara dengan memakai Hadits-Hadits Nabi, perkataan sahabat, Tabi’in ( pengikut sahabat ) dan bahkan perkataan / Qoul Imam Madzhab empat, juga tidak memaki apa yang telah digali oleh para Imam / Ulama’ senior dari al-Qur’an dan Hadits juga tidak mau memakai Ijma’ ( kesepakatan Ulama’ ) Qiyas yang benar. Namun demikian dia tetap mengaku sebagai pengikut ajaran Madzhab Imam Achmad bin Hambal untuk sekedar mengelabuhi orang awam. 
             Telah banyak Ulama’ dari Madzhab Hanafiyah yang menolak kesesatan Muhammad bin Abdul Wahab dan untuk itu mereka mengarang banyak risalah hingga saudaranya sendiri Syaih Sulaiman bin Abdul Wahab juga melakukan hal yang serupa seperti yang telah saya sebutkan diawal. Dia berkata kepada para pengikutnya : Ijtihatlah sesuai dengan angan-anganmu dan putuskanlah hukum dengan apa yang kamu lihat sesuai dengan agama dan jangan sekali kali kamu menoleh pada kitab-kitab yang banyak terlaku karena didalamnya terdapat banyak hal yang Haq dan Batil, dia banyak membunuh Ulama’ serta orang-orang Sholeh karena tidak mau sepakat dan mengakui terhadap apa yang telah diperbuatnya (Bid’ahnya ).



"وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِمَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّه مَا تَوَلّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَساءَتْ مَصِيْرًا"
"Dan barang siapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Dan mengikuti jalan selain apa yang telah ditempuh oleh orang-orang yang beriman, maka akan saya (Allah) bebankan padanya apa yang menjadi pilihanya dan akan saya masukkan dia kedalam neraka Jahanam, yaitu lebih jelek-jeleknya tempat kembali " 
(An-Nisa' : 115)
DONASI VIA DANA Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts Newer Posts Older Posts Older Posts

More posts

Comments

Post a Comment