Tatacara Sholat Jenazah Syarat-syarat, Sunnah-sunnahnya
Hal-hal yang berkaitan dengan mensholati mayit yang perlu diketahui meliputi : syarat, rukun, teknis pelaksanaan, serta hal-hal yang disunahkan ketika mensholati mayit .
Syarat-Syarat Sholat Mayit
1. Mayit telah selesai dimandikan dan suci dari najis baik tubuh, kafan atau tempatnya. Apabila setelah dimandikan dan belum disholati keluar najis dari tubuh mayit, maka harus dihilangkan terlebih dahulu. Jika keluarnya setelah sholat, maka hukum menghilangkannya adalah sunah. Namun menurut Al-Romli hukumnya tetap wajib. Kecuali najis tersebut terus–menerus keluar, maka mayit tetap disholati sebagaimana sholatnya orang hidup yang menderita penyakit tidak mampu menahan kencing (Jawa: beser). Dan anggota tubuh yang terdapat najis tersebut harus ditutupi lalu mayit segera disholati.
2. Orang yang mensholati (mushalli) telah memenuhi syarat-syarat sah melaksanakan sholat.
3. Posisi musholli berada dibelakang jenazah. Jika jenazahnya laki-laki, bagi imam atau munfarid (orang yang sholat sendirian) sebaiknya berdiri tepat pada kepala, sedang bila jenazahnya perempuan, maka posisinya tepat pada pantat.
4. Jarak antara keduanya (mayit dan musholli) tidak melebihi 300 dziro’ (+ 144 m.), jika sholat dilaksanakan di luar masjid.
5. Tidak ada penghalang antara keduanya. Dalam arti seandainya mayit berada dalam keranda yang ditutup, keranda tersebut tidak boleh dipaku. Kecuali jika pelaksanaan sholatnya dilakukan di masjid.
6. Musholli hadir (berada di dekat mayit), jika mayit yang disholati tidak ghoib.
Rukun-rukun Sholat Mayit
1. Niat.
Dalam niat, diwajibkan untuk menyengaja dan menentukan (ta’yin) sholat, berikut menyertakan niat bersamaan takbir pertama (takbirotul ihrom). Untuk bacaan niatnya adalah :
أُصَلِّى عَلىَ هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ مَأْمُوْمًا/إِمَاماً فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالىَ
2. Berdiri bagi yang mampu.
3. Melakukan takbir empat kali dengan menghitung takbirotul ihrom.
4. Membaca surat Al-Fatihah atau penggantinya bila tidak mampu.
5. Membaca sholawat Nabi SAW. setelah takbir kedua.
6. Mendo’akan mayit setelah takbir ketiga.
7. Membaca salam pertama.
Teknis pelaksanaan.
1. Takbirotul ihram besertaan dengan niat dan sebelumnya disunatkan untuk melafadzkannya. Bunyi niatnya adalah :
أُصَلِّى عَلىَ هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ مَأْمُوْمًا/إِمَاماً فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلَّهِ تَعَالى
2. Membaca surat Al-Fatihah.
3. Melakukan takbir kedua.
4. Membaca Sholawat kepada Nabi SAW.
اَلْلَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ عَلىَ سَيَّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٍ
5. Melakukan takbir ketiga, kemudian membaca do’a:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُوْلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَأَغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابَ اْلقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.
6. Melakukan takbir keempat dan disunatkan membaca do’a :
اَللَّهُمُّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
7. Membaca salam.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kesunahan dalam Sholat Mayit.
v Mengangkat kedua telapak tangan sampai sebatas bahu, lalu meletakkannya di bawah dada pada setiap takbir.
v Memandang ke arah jenazah. Namun menurut sebagian ulama, kesunahannya tetap memandang kepada tempat sujudnya, sebagaimana sholat yang lain.
v Membaca do’a ta’awwudz sebelum membaca surat Al-Fatihah.
v Melirihkan bacaan ta’awwudz dan do’a.
v Tidak membaca do’a Iftitah.
v Tidak membaca surat atau ayat Al-Qur`an. Namun jika seorang ma’mum bacaan Fatihahnya mendahului imam, maka dari pada diam, lebih baik membaca ayat–ayat Al-Qur’an
v Membaca Hamdalah sebelum membaca Sholawat
v Membaca sholawat kepada keluarga Rasulullah saw. seperti :
اَللُّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ عَلىَ سَيَّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٍ
v Mendo’akan orang-orang Islam setelah membaca sholawat, seperti
v Ketika salam, sunat membaca:
DONASI VIA DANA
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
Admin
Comments