Fenomena Was-Was
Was-was adalah kebimbangan tanpa berdasarkan bukti. Was-was ada
yang disebabkan kelemahan akal, gangguan dalam akal, kurang memahami masalah
agama dan ada yang disebabkan karena
ikut-ikutan pada orang lain. Orang was-was sering merasa terkena najis bahkan
terkadang mereka menganggap najis pada benda yang sudah dipandang suci oleh
syariat.
Ketika shalat mereka sering menyusahkan diri dengan
mengulang-ngulang bacaan takbir serta memberat-beratkan seolah-olah mereka
melakukan pekerjaan berat. Akibatnya mereka tidak mendapatkan keutamaan takbiratul ihram bahkan
terkadang mereka tidak mendapatkan bacaan Fatihahnya imam. Syetan tidak melepaskan mereka kecuali ketika ruku' dan terkadang
mereka tertinggal satu rakaat bahkan tertinggal shalat secara keseluruhan. Akhirnya
yang mereka dapatkan adalah kerugian. Mereka dipermainkan Syetan sehingga
melakukan takbir dengan berat dan suara yang kurang sedap yang dapat mengganggu
orang di sekitarnya. Bahkan terkadang mereka mengganggu dengan mengeraskan
bacaan-bacaan yang yang semestinya pelan. Mereka tidak yakin suaranya bisa
didengar dirinya kecuali dengan mengeraskan. Diantara mereka bahkan ada yang mengingkari sesuatu yang sudah
nyata dan terdengar oleh telinga sehingga ia mengingkari apa yang keluar dari
dirinya dan didengar oleh orang lain. Bagi orang was-was dianjurkan
mempelajari dan merenungkan sejarah Rasulullah karena dengan begitu
mereka dapat mengambil contoh dan teladan dari Rasulullah.
Rasulullah memilih
yang termudah selama itu bukan perbuatan
yang dilarang. Beliau biasa makan bersama
anak-anak kecil dan ahli kitab dari kalangan dzimmi. Beliau juga berwudlu di
wadah mereka tanpa meneliti terlebih dahulu. Beliau mandi wajib bersama salah
seorang istri beliau dalam satu wadah sementara istri-istri beliau bergantian
menggunakan wadah tersebut. Beliau juga pernah mengerjakan shalat sambil
menggendong Umamah Binti Aby al-Aas di punggung beliau, apabila berdiri maka
beliau menggendongnya dan bila beliau duduk maka beliau meletakkannya. Beliau
juga pernah berwudhu dengan air sisa hewan. Beliau dan para sahabat juga pernah
berwudhu dari wadah penyembah berhala, dan tidak pernah diceritakan beliau
pernah ragu-ragu atau mengulang-ulang takbir. Perhatian mereka lebih pada pembersihan hati dari akhlak yang tidak
terpuji seperti riya', sum'ah, dengki, sombong, kikir dan lain-lain. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab Ihya` ‘Ulumiddin. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِAku diutus dengan membawa agama yang disenangi dan mudah (HR. Ahmad dari Abi Umamah)
Dalam al-Quran Allah berfirman
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍAllah tidak menjadikan kesulitan kepada kalian dalam urusan agama (QS al-Hajj :78)
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَAllah menghendaki kermudahan bagi kalian dan Allah tidak menghendaki kesulitan bagi kalian (QS. al-Baqarah :185)
Ibnu Hajar meriwayatkan
dalam kitab Tuhfatul Muhtaj dari kitab al-Khadim bahwa bagi orang yang
was-was sebaiknya mengambil pendapat
yang lebih ringan supaya was-wasnya tidak semakin parah yang mengakibatkan bisa
keluar dari ketentuan-ketentuan agama. Artinya dikhawatirkan ia akan keluar
dari ketentuan syar'i dengan sebab bertambah was-was. Seperti seseorang yang was-was dalam niat dan wudlu atau bacaan
Fatihah di belakang imam. Kebanyakan waktunya akan dihabiskan untuk berwudlu
dan shalat saja. Sedangkan bagi orang
yang tidak was-was sebaiknya mengambil pendapat yang lebih berat supaya ia tidak keluar dari batas yang
diperbolehkan.
Imam al-Amiry meriwayatkan dalam kitab Bahjah bahwasanya tidak diriwayatkan dari
Nabi dan sahabat-sahabatnya bahwa dalam niat terdapat lafadz sedikitpun, dan
bahwasanya niat sama sekali bukanlah
termasuk dari shalat. Niat hanyalah kehendak untuk melaksanakan sesuatu. Setiap
orang yang berkehendak untuk melaksanakan sesuatu berarti dia telah berniat
pada sesuatu tersebut. Siapa yang berkehendak untuk berwudhu maka dia telah berniat dan
siapa yang berkehendak untuk melaksanakan shalat berarti dia telah niat. Tidak
ada orang yang berkehendak pada suatu
ibadah atau lainnya dengan tanpa niat. Niat adalah sesuatu yang menetap
pada pekerjaan-pekerjaan manusia yang dikehendaki dan tidak sulit dilakukan.
Apabila mereka menghendaki menghilangkan niat dari pekerjaan-pekerjaannya maka
mereka tidak bisa melakukannya.
Dengan demikian, orang ragu tentang keberhasilan niatnya termasuk
orang aneh karena pengetahuaan seseorang terhadap kondisi dirinya adalah
perkara yakin, bagaimana orang yang berakal bisa meragukan hal ini? Apabila seseorang was-was dalam masalah rukun qouli (berbentuk
ucapan) maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Bahkan Abu Hanifah
memakruhkan makmum membaca Fatihah. Sedangkan untuk selain makmum menurut beliau sudah bisa dianggap
sah dengan membaca apa saja yang mudah dari al-Quran meskipun hanya satu ayat
yang ringkas. Maka berpijak pada riwayat Ibnu Hajar di atas bagi orang was-was
boleh mengikuti pendapat-pendapat yang semacam ini.
Doa untuk Menghilangkan Was-Was
Abul Hasan as-Syadzili mengajarkan doa kepada santri-santrinya
untuk menghilangkan was-was dan pikiran yang buruk. Beliau mengatakan,
"Barang siapa merasakan was-was hendaknya dia meletakkan tangan kanannya
pada dada dan mengucapkan
سُبْحَانَ
الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الخْلَاَّقِ الْفَعَّالِ 7×
Sebagian Ulama' mengatakan,"Barang siapa banyak mengalami
was-was dalam shalatnya maka hendaknya dia meminta perlindungan kepada Allah
dari syetan dan berdoa
أَعُوْذُ
بِاللِه مِنَ الشَّيْطَانِ الْوَسْوَاسِ خَنْزَبِ 3×
Syekh Ahmad bin Wasi' setiap hari setelah shalat subuh membaca doa
اللَّهُمَّ
إِنَّكَ سَلَّطْتَ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا عَدُوًّا بَصِيْرًا بِعُيُوْبِنَا
يَرَانَا هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ نَرَاهُمْ فَأَيِسْهُ مِنَّا كَمَا
آيَسْتَهُ مِنْ رَحْمَتِكَ وَقَنِّطْهُ مِنَّا كَمَا قَنَّطْتَهُ مِنْ عَفْوِكَ
وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جَنَّتِكَ
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Pada suatu hari iblis menampakkan diri kepada Syekh Ahmad bin
Wasi’.
Kemudian iblis berkata, “Hai Ibnu
Wasi', Apakah kamu mengenalku?”
Ibnu Wasi' bertanya, "Siapa kamu?"
Iblis menjawab, "Aku Iblis."
Ibnu Wasi' berkata lagi, "Apa yang
kamu inginkan?"
Iblis menjawab, “Aku menginginkan kamu tidak
memberitahukan doa permohonan perlindungan ini kepada siapapun."
Lalu Ibnu
Wasi' berkata, "Demi Allah, aku tidak mencegah untuk memberikan pada
setiap orang yang menghendakinya maka lakukanlah apa yang kau kehendaki."
Wallahua'lam Bisshowab.
DONASI VIA DANA
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
Admin
Comments