Bagaimana Hidup Di Dunia Menurut Al-Qur'an
"Hari
ini harus lebih baik daripada hari kemarin".
"Manusia
akan merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin
Bahkan
dia akan celaka jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin"
Dalam
kehidupan, manusia ibarat wayang yang di-skenario-kan dan dimainkan atas
kehendak "Sang Dalang". Secara teologi sunni, dalam dunia perwayangan
sosok dalang boleh saja memusnahkan tokoh-tokoh aliran putih atau menjayakan
tokoh aliran hitam di muka bumi. Namun jangan pernah dilupakan "Kullun Muyassarun Lima Khuliqa Lahu",
bahwa semuanya akan dimudahkan atas apa yang akan dijadikan (taqdir-kan)
baginya.
Dalam
sebuah haditsnya Abi Dzarr yang diriwayatkan Muhammad bin Manshur At Thousi
dijelaskan bahwa ketika air mani telah mengeram di dalam rahim selama 40 hari,
malaikat menghadap dan bertanya kepada Alloh, "Wahai Tuhanku, apakah hamba
Mu ini akan Engkau ciptakan berjenis kelamin laki laki atau perempuan?"
Dan Alloh akan menetapkan kepastian jenis kelamin bakal bayi itu. Kemudian
malaikat bertanya lagi, "Wahai Tuhanku, apakah hambamu ini akan Engkau
jadikan sebagai orang yang celaka ataukah orang yang beruntung?"
Selanjutnya Alloh akan mencatat ketetapan nasib bakal bayi itu.
Manusia
dalam ilustrasi ini memiliki peran yang sedikit berbeda dibandingkan hanya
sekedar wayang. Dalam menciptakan manusia Allah berkenan menganugerahkan sebuah
kehendak, dianugerahkan pula nafsu dan akal. Dengan dua modal inilah muncul
beragam karakter 'wayang baru' bernama manusia, adakalanya manusia
berwajah protagonis (mukmin) maupun bertopeng antagonis
(kafir). Namun jangan pernah melupakan, Allah lah yang menggariskan semuanya,
Dia menciptakan mukmin dan kafir dan akan mengembalikan mereka dalam keadaan
mukmin dan kafir selaras kehendak taqdir-Nya. Allah pula yang telah menciptakan
perwujudan manusia lebih mulia dan lebih sempurna dibandingkan makhluk Allah
lainnya, meskipun terkadang satu dengan yang lain berbeda-beda kualitas
kesempurnaannya. Ada
yang cantik namun ada juga yang jelek, hanya saja semuanya tahu bahwa yang
terjelek pun akan merasa lebih sempurna jika ia menyaksikan makhluk selain
manusia di muka bumi. Sehingga ia pun tidak akan pernah berharap dirinya
menjadi makhluk lain, selain manusia. Allah berfirman :
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ
وَمَا فِي الْأَرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ (1) هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ
كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (2) خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ
بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (3)
"Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di
langit dan apa yang di bumi; hanya Allahlah yang mempunyai semua kerajaan dan
semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (1) Dia-lah yang
menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang
beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(2) Dia menciptakan
langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya
rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali (mu). (3)
Tidak
ada satu pun yang tidak pernah diketahui Allah. Segala apa yang ada dan terjadi
selalu dalam intaian Nya. Termasuk segala yang pernah
tersimpan rapat di lubuk hati yang paling dalam sekalipun. Karena itulah Alloh
memperingatkan kepada hambaNya. "Takutlah
kalian untuk merahasiakan selain yang engkau lahirkan. Atau memendam di hati
kalian selain yang engkau tampakkan"
يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ
بِذَاتِ الصُّدُورِ (4)
Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan
mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha
Mengetahui segala isi hati. (4)
Demikianlah
fase demi fase perjalanan hidup manusia di dunia ini. Sejarah tak hanya mencatat
dan merekam perjalanan kehidupan. Allah mengisahkan kejadian-kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai pelajaran
berharga bagi manusia zaman ini. Bagaimana azab di dunia menimpa para pengingkar
utusan-Nya. Mereka menyangka tidak akan ada pertanggung jawaban setelah mati. Dengan
teramat congkaknya mereka mengatakan, "Apakah
manusia yang sejenis dengan kami yang akan memberikan petunjuk kepada kami?"
Mereka merasa malu untuk mengikuti petunjuk utusan Allah yang dianggapnya
sepadan. Tanpa menyadari betapa apa yang telah mereka lakukan tidak akan pernah
sekalipun menguntungkan Allah, apalagi membahayakanNya. Bahkan perbuatan itu
pasti akan merugikan diri mereka sendiri. Allah maha kaya atas perbuatan perbuatan
mereka.
أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ
كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (5) ذَلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ
رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا
وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (6) زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ
يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا
عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (7) فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (8)
"Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang
kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat yang
buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. (5) Yang
demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul
mereka (membawa) keterangan-keterangan lalu mereka berkata: "Apakah
manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?" lalu mereka ingkar dan
berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. (6) Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak
akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar
kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (7) Maka berimanlah
kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an) yang telah Kami
turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (8)
Mereka
yang beriman selalu menanti kebahagiaan hakiki tanpa harus merasa kalah dalam
kehidupan duniawi. Kekurangan duniawi hakikikatnya bukan lah kerugian, akan
tetapi kerugian dan keuntungan hanya akan dapat dibuktikan di dunia kekal nanti.
Kehidupan
akhirat dengan isyarat "Yaum
at-Taghabun" adalah cermin kehidupan sejati. Artinya, di
sinilah akan nampak jelas mereka yang beriman mendapatkan keberuntungan yang
besar karena mendapatkan tempat-tempat mulia, menggantikan jatah kursi
mereka yang telah sekian lama mereka duduki dengan pongah dan merasa abadi.
Sebaliknya mereka yang tidak beriman akan nampak merugi karena terpaksa harus
mendapatkan tempat-tempat terhina, menggantikan jatah kursi dari mereka
yang beriman. Allah berfirman :
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ
التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ
أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (10)
"(Ingatlah) hari (yang di waktu itu)
Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari
(waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus
kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
keberuntungan yang besar (9) Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan
ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di
dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.".
Musuh-musuh
Allah mengatakan : "Wahai
engkau umat Islam, andai saja agamamu adalah agama yang benar, niscaya Tuhan
tidak akan menurunkan cobaan dan kesengsaraan sedemikian rupa kepada kalian".
Allah menegaskan dalam al-Qur'an-Nya, bahwa semua itu hanya lah dari Allah dan
atas izin Allah. Mereka yang menyadarinya dan pasrah dengan tulus hati dalam
menanggung musibah itu, merekalah yang beruntung telah mendapatkan petunjuk
Allah.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ
يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (11) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ
تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (12) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (13)
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang
menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu (11) Dan ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada
Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah
menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (12) (Dia-lah) Allah, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mu'min
bertawakkal kepada Allah saja. (13)
Bukan hanya ke-kafir-an yang menjerumuskan sosok
hamba untuk enggan mempercayai "setiap musibah adalah kehendak
Allah", bahkan kerancauan akal serta sisi kemanusiaan yang terlalu
dilebih-lebihkan dapat menghitamkan dan membiaskan setiap nilai keimanan
seorang manusia, bahkan muslim sekali pun. Dalam era kekinian, kilas balik
kejadian di atas dapat kita saksikan dalam pemberontakan teologi oleh
hati yang kelam dan fikiran yang keruh bertajuk "Tuhan kami tidak kejam".
Di mana pemikiran ini menjadi isyarat bagaimana rasionalitas manusia terus
bergerak mencoba melepaskan diri dari nilai dan kode etik ketuhanan.
Berbagai bencana dahsyat menimpa umat manusia, berbagai
malapetaka silih berganti, tsunami, gempa bumi, tanah longsor dan
sulitnya mengais sesuap nasi seolah semuanya menjadi muqadimah dari
kiamat. Kemudian apa yang mereka katakan ?. Manusia pertama mengatakan, "Saya tidak percaya bahwa itu adalah
Tuhan, terlalu bengis dan kejam kalau itu dilakukan Tuhan",
manusia lain bersenandung, "Hatiku
merasa ini bukan taqdir Tuhan, karena Aku yakin Tuhan tak mungkin korbankan
ratusan jiwa".
Maha suci Allah, Tuhan seru sekalian alam, terbukti sudah
firman Allah "Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang
kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya
Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya". Hati yang beriman
akan selalu diberikan kemudahan untuk meyakini bahwa segala musibah adalah
dengan izin Allah dan atas kehendaknya. Manusia, sebagai hambanya yang lemah
dan ringkih ditugaskan untuk ber-tawakal berserah diri dan menerima apa
yang di-taqdir-kan kepadanya. Semoga….amien..!
DONASI VIA DANA
Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain https://syariatislam10.blogspot.com/. Terima kasih.
Newer Posts
Newer Posts
Older Posts
Older Posts
Admin
Comments